Arema Sulit Larang Pemain Ikut Tarkam

 

General Manager Arema FC, Ruddy Widodo mengaku maraknya turnamen tarikan kampung (tarkam) ibarat buah simalakama buat klub. Hal ini lantaran Tim Singo Edan tidak bisa melarang pemain tetapi juga tidak memberikan izin pemain ikut tarkam.

Ruddy mengatakan pihaknya hanya meminta para pemain bisa menjaga diri agar tidak cedera. Pihak klub hanya bisa memberikan himbauan karena menyadari situasi yang terjadi saat ini.

Selama liga tidak berjalan sejak Maret lalu, pemain Liga 1 hanya mendapatkan 25 persen gaji mereka dari klub. Tak heran jika beberapa pemain memilih tarkam demi mendapatkan uang tambahan selain beralih profesi sementara dari menjual beras sampai menjadi satpam.

 

“Gaji 25 persen sebenarnya cukup tidak cukup buat pemain. Tapi buat Arema yang penting mereka bertanggung jawab sama diri sendiri. Saat tarkam mereka bisa jaga diri. Kalau ada apa-apa tanggung jawab sendiri. Kami melarang pun tidak bisa, susah,” ucap Ruddy kepada CNNIndonesia.com, Kamis (12/11).

Maraknya turnamen tarkam juga membuat Ruddy heran. Pertandingan tarkam justru menjamur hampir di seluruh pelosok, sementara kompetisi resmi di tanah air kembali ditunda karena tidak kunjung mendapatkan izin dari pihak kepolisian.

“Ironisnya, tarkam ini banyak yang boleh pakai penonton. Sepak bola ini tidak bisa disetop. Sepak bola olahraga merakyat yang bisa mempersatukan orang. Bahkan di Malang sini, ada tarkam antarinstansi, ini kan lucu. Tolong dilihat ini wahai bapak-bapak yang melarang [Liga 1 bergulir],” katanya.

Direktur Madura United, Haruna Soemitro juga menyatakan gatal melihat fenomena pertandingan yang marak digelar belakangan. Nama-nama pesepakbola profesional yang biasanya mewarnai kompetisi Liga 1 juga ikut tampil di tarkam, termasuk di dalamnya pemain yang pernah mengisi line up Timnas Indonesia.

Terkait pemain yang terjun ke tarkam, Haruna mengungkapkan pemain seharusnya membedakan ajang apa saja yang bisa diikuti selama kompetisi vakum di tengah pandemi virus corona.

“Yang terikat kontrak dengan Madura United semua status pemain profesional. Harusnya mereka bisa membedakan kegiatan-kegiatan yang profesional,” ujarnya.

Menanggapi fenomena tarkam, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan atau Iwan Bule memahami bahwa itu terjadi akibat kekosongan kompetisi saat pandemi Covid-19. PSSI juga tidak melarang pemain di luar Timnas Indonesia U-19 untuk tetap mengikuti turnamen tarkam tersebut.”Sebagai pribadi yang punya passion bola, pastinya gatal melihat fenomena liga dilarang tapi tarkam yang jauh dari standar liga profesional jalan terus.”

“Terhadap fenomena tersebut [tarkam] PSSI hanya berpesan kepada pemain yang terlibat supaya tidak sampai cedera. Khusus pemain yang terlibat di Timnas U-19 tidak diizinkan ikut pertandingan yang tidak resmi dari PSSI atau tarkam.”

“Keinginan kuat PSSI untuk bergulirnya kompetisi salah satu alasannya masalah income pemain, pelatih, wasit. Kerugian lainnya kalau kompetisi tidak bergulir adalah pemain, pelatih dan wasit akan kehilangan sentuhan teknis. Untuk situasi tersebut makanya banyak kita lihat muncul fenomena ada yang ikut kegiatan dan pertandingan tidak resmi dari PSSI,” jelas Iwan Bule.