Arsenal ‘Sakaratul Maut’ di Liga Inggris

 

Arsenal menghadapi musim baru Liga Inggris sebagai salah satu tim yang paling optimistis. Kini setelah 14 pekan berlangsung, mereka justru berada dalam kondisi sakaratul maut.

Arsenal bisa jadi merupakan tim yang paling percaya diri di awal musim. Mereka memenangkan Piala FA musim lalu dan kemudian merebut trofi Community Shield. Mereka adalah tim yang berhasil mengangkat dua trofi juara di bulan Agustus.

The Gunners kemudian makin bisa tertawa riang karena menjalani dua laga awal Liga Inggris dengan kemenangan atas Fulham dan West Ham United. Pierre Emerick Aubameyang juga memperpanjang kontrak dan Willian tampil mempesona di laga perdana.

 

Arsenal lalu sempat kalah dari Liverpool di pekan ketiga Liga Inggris, namun sukses balas dendam dengan menyingkirkan Liverpool dari ajang Piala Liga. Arsenal kalah dari Manchester City dan Leicester City tetapi bisa mencuri kemenangan saat melawan Manchester United.

Arsenal's Pierre-Emerick Aubameyang lifts the trophy after winning the English FA Community Shield soccer match between Arsenal and Liverpool at Wembley stadium in London, Saturday, Aug. 29, 2020. (Andrew Couldridge/Pool via AP)Trofi Piala FA dan Community Shield membuat Arsenal percaya diri menghadapi musim baru. (AP/Andrew Couldridge)

Catatan itu membuat Arsenal mengumpulkan 12 poin dari tujuh pertandingan. Sejatinya jumlah tersebut cukup lumayan meski tak bisa dibilang istimewa, mengingat jadwal berat yang dijalani ‘The Gunners’ di awal musim. Namun petaka justru datang di tujuh laga berikutnya.

Di saat Arsenal seharusnya bisa meraup banyak poin mengingat sejumlah lawan memiliki kualitas di bawah mereka, tim asal London Utara tersebut justru terlilit dalam krisis.

Arsenal hanya sanggup meraup dua poin dari 21 poin maksimal yang bisa didapat oleh mereka. Di luar Tottenham Hotspur dan Everton, tim macam Burnley, Wolverhampton, dan Aston Villa juga bisa pulang dengan tiga poin dari laga lawan Arsenal.

Tak Hanya Salah Arteta

“Mikel Arteta adalah sang penyelamat. Ia adalah sosok terpilih untuk mengangkat performa Arsenal.”

Hal itulah yang mengapung ketika Arteta resmi jadi pelatih Arsenal. Pengalaman menjadi asisten Pep Guardiola diyakini bakal jadi sumber kekuatan utama Arteta. Bahkan banyak pula yang meyakini justru Guardiola yang tidak akan berdaya tanpa Arteta.

Namun menilik tujuh laga terakhir di Liga Inggris, pendukung Arsenal hanya bakal sanggup mengelus dada.

Di luar serangkaian kekalahan, hal lain yang patut dicemaskan adalah Arsenal hanya mampu mencetak tiga gol dari tujuh pertandingan. Hal itu berarti sistem penyerangan Arsenal saat ini tengah bermasalah.

Arsenal's Gabriel, second from left, is cheered by teammates after scoring during the English Premier League soccer match between Fulham and Arsenal in London, Saturday, Sept. 12, 2020. (Ben Stansall/Pool via AP)Arsenal sempat mengawali musim ini dengan catatan kemenangan di dua laga awal. (AP/Ben Stansall)

Aubameyang yang diyakini jadi mesin gol dan kapten Arsenal malah tampil melempem setelah memperpanjang kontrak musim ini. Willian tidak berdaya dan bahkan dianggap tak layak untuk diberi kepercayaan selama 90 menit.

Barisan gelandang Arsenal minim kreativitas sedangkan lini belakang hanya tampil seadanya tanpa memberikan rasa aman.

Dikutip dari Opta, catatan 14 poin dalam 14 pekan merupakan yang terburuk di era Premier League. Bahkan bila sistem dua poin dikonversi menjadi tiga poin, catatan musim ini adalah yang terburuk sejak musim 1974/1975.

Sebagai pelatih, Mikel Arteta tentu memegang tanggung jawab penuh. Pertanyaan pun terus mengemuka ke Arteta seiring performa jeblok Arsenal, termasuk keputusan meninggalkan Mesut Ozil dari daftar skuad The Gunners saat ini.

Namun mirisnya, pemecatan Arteta tidak akan serta-merta menuntaskan masalah yang ada dalam tubuh Arsenal saat ini. Setiap pemain Arsenal yang rutin mendapat menit bermain punya tanggung jawab yang sama.

Terlihat dari laga lawan Everton, Arsenal miskin kreativitas dan tidak banyak memberikan ancaman berbahaya. Gol yang didapat Arsenal hanya berasal dari titik penalti.

Barulah di menit-menit akhir pertandingan Arsenal seolah bergerak mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendapatkan poin di laga tersebut.

Arsenal's manager Mikel Arteta applauds at the end of an English Premier League soccer match between Arsenal and Burnley at the Emirates stadium in London, England, Sunday Dec. 13, 2020. (Catherine Ivill/Pool via AP)Pergantian Mikel Arteta tidak akan langsung menghapus catatan buruk Arsenal. (AP/Catherine Ivill)

Agak miris membayangkan Arsenal musim ini justru diterpa kekhawatiran bakal bertarung di zona degradasi. Kondisi itu tentu merupakan penurunan drastis dan berjenjang yang dialami oleh Arsenal dalam satu dekade terakhir.

Setelah hanya dianggap tim spesialis empat besar tanpa bisa juara, Arsenal lalu mulai kehilangan jatah Liga Champions. Kini, Arsenal justru ditawarkan medan pertarungan baru yaitu pertarungan menghindari degradasi.

The Gunners saat ini berada di posisi 15 klasemen sementara Liga Inggris dengan 14 poin. Arsenal hanya terpaut empat poin dari Burnley yang berada di zona degradasi.

Bayangan Arsenal berada di zona degradasi di akhir musim jelas sulit dipercaya, tetapi tren Arsenal gagal menang dalam tujuh laga terakhir membuat pendukung Arsenal harus percaya bahwa tim kesayangan mereka tengah berada di jalur yang tak mereka inginkan tersebut.Arsenal jelas berada dalam kondisi sakaratul maut dan butuh penanganan tepat bila ingin tetap kembali hidup untuk sekadar melanjutkan sisa musim Liga Inggris 2020/2021 setidaknya di papan tengah.