Dipermak Juventus, Milan Masih Boleh Mimpi Juara

 

Tak terlalu telak, namun readyviewed kekalahan dari Juventus cukup membuat AC Milan syok di tengah upaya meraih gelar juara Liga Italia untuk kali pertama setelah 10 tahun.

Berstatus sebagai pemimpin klasemen dengan rekor mentereng tanpa kekalahan, Milan tampil dengan percaya diri menantang sang juara bertahan di San Siro.

Bermain menekan sejak awal dan begitu agresif, Milan justru kebobolan lebih dulu. Kegemilangan assist Paulo Dybala mendapat sorotan, sementara penyelesaian akhir Federico Chiesa juga pantas mendapat acungan jempol.

 

Milan merespons dengan baik setelah tertinggal pada menit ke-18. Permainan pressing terus dimainkan Hakan Calhanoglu dan kawan-kawan.

Unggul penguasaan bola sekaligus mengepung pertahanan Juventus, Milan kesulitan menembus barisan belakang lawan yang rapat. Koordinasi pertahanan yang dikomando Leonardo Bonucci benar-benar solid. Alhasil Milan kerap memanfaatkan sepakan-sepakan dari luar kotak penalti yang gagal menghasilkan gol.

Juventus' Aaron Ramsey, left, duels for the ball with AC Milan's Davide Calabria during the Serie A soccer match between AC Milan and Juventus at the San Siro stadium, in Milan, Italy, Wednesday, Jan. 6, 2021. (AP Photo/Antonio Calanni)Aaron Ramsey berduel melawan Davide Calabria. (AP Photo/Antonio Calanni)

Pertahanan Juventus menjadi ujian tersendiri bagi Milan. Bianconeri merupakan salah satu kesebelasan dengan catatan kebobolan paling sedikit di Liga Italia.

Tak cuma performa pemain-pemain field player yang merepotkan lawan, Wojciech Szczesny yang berada di bawah mistar pun membuat Milan bingung mencari celah. Total ada delapan penyelamatan yang dilakukan mantan kiper Arsenal tersebut.

Alih-alih membobol gawang Juventus dari situasi dominasi di area permainan lawan, readyviewed Milan justru mencetak gol melalui skema serangan balik yang dituntaskan dengan apik oleh Davide Calabria.

Memasuki babak kedua Milan tak lagi menerapkan pressing tinggi seperti babak pertama. Di sisi lain, Milan tampak mulai keletihan setelah menerapkan permainan menekan. Juventus pun memanfaatkan situasi dengan baik dengan mencetak dua gol yang memanfaatkan kemampuan individu.

Begitu pula dengan kerja sama Dejan Kulusevski dan Weston McKennie yang menghasilkan gol ketiga Juventus pada menit ke-76 yang seolah menyudahi permainan lebih dulu sebelum wasit meniup peluit panjang.Gol kedua dari Chiesa muncul dari situasi yang tidak terlalu berbahaya. Bola yang dikirim Dybala tidak masuk di jantung pertahanan, namun insting tajam Chiesa sebagai penyerang menjadi nyawa dari gol pada menit ke-62.

Kekalahan di San Siro bisa menjadi pemicu semangat mengejar gelar juara atau menjadi awal kemerosotan Milan.

Respons setelah laga melawan Juventus menjadi faktor penting yang harus dipoles Pioli menghadapi Liga Italia yang masih panjang. Terlebih Milan kini hanya unggul satu poin dari Internazionale Milan yang menghuni peringkat kedua.

Musim ini Milan menampilkan perbedaan performa dan semangat. Namun Juventus adalah lawan di level lain yang patut dijadikan standar untuk menggapai sukses.

 

Milan pernah berada dalam situasi tertinggal dan bisa membalikkan keadaan, hanya saja formula Pioli kali ini tidak mujarab. Efektivitas serangan Milan bisa dinilai dari 20 percobaan yang hanya berhasil menembus gawang satu kali saja.

Juventus' Weston McKennie, right, celebrates with Juventus' Dejan Kulusevski after scoring his side's third goal during the Serie A soccer match between AC Milan and Juventus at the San Siro stadium, in Milan, Italy, Wednesday, Jan. 6, 2021. (AP Photo/Antonio Calanni)Weston McKennie dan Dejan Kulusevski bukti pembacaan situasi pertandingan yang bagus oleh Andrea Pirlo. (AP Photo/Antonio Calanni)

Rossoneri bertahan dengan lumayan baik. Seandainya bukan Juventus yang menjadi lawan, bisa jadi tiga poin sudah di tangan. Performa individu pemain Juventus juga patut menjadi perhatian.

Terlepas dari Cristiano Ronaldo yang bermain kurang greget, Dybala, Chiesa, Kulusevski, dan McKennie membuat repot Gianluigi Donnarumma dan kawan-kawan. Hal ini membuktikan Juventus tidak memiliki ketergantungan kepada satu pemain saja.

Khusus untuk Kulusevski dan McKennie yang baru masuk pada babak kedua, kredit layak diberikan kepada Andrea Pirlo yang jeli melakukan pergantian pemain yang mengeksplorasi tenaga lawan.

Disiplin taktik menjadi salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik Milan dari Juventus dari laga pekan ke-16.

Milan tentu masih punya kesempatan menyudahi puasa gelar yang hampir berlangsung satu dekade, namun masih ada banyak hal yang harus dibenahi jika ingin mewujudkan mimpi mengangkat trofi.Kehilangan tiga poin Milan berarti persaingan menuju tangga juara kembali terbuka. Selain Inter yang menempati peringkat kedua, Roma dan Juventus pun kini punya kans mengejar klub asal Kota Mode tersebut.