Golden Boy, Jalan Erling Haaland Menuju Masa Keemasan

 

Erling Haaland belum mau berhenti membuat cerita dalam kariernya untuk menjadi pesepakbola hebat. Kali ini, cerita yang dibuat Haaland bukan soal gol tetapi berupa gelar individu.

Bomber muda Borussia Dortmund itu baru saja dinobatkan sebagai peraih Golden Boy 2020 oleh UEFA. Trofi ini bukan gelar sembarangan karena hanya diperuntukkan buat pemain yang dianggap terbaik di bawah usia 21 tahun.

Haaland mengalahkan dua pemain muda lainnya yakni Ansu Fati (Barcelona) dan Alphonso Davies (Bayern Munchen). Kedua pemain ini juga tampil memikat bersama klub masing-masing.

Haaland berhak atas gelar paling prestisius buat pemain muda itu berkat penampilan gemilang semasa berkostum RB Salzburg dan kini dengan seragam Dortmund.

Keran gol Haaland seolah tidak pernah berhenti di Salzburg maupun Dortmund. Penyerang asal Norwegia itu seolah punya banyak cara untuk membobol gawang lawan.

Entah dengan kaki kiri, kaki kanan, atau kepala. Semua bagian tubuh Haaland agaknya bisa jadi senjata mematikan buatnya untuk merobek gawang tim-tim lawan.

Haaland juga baru saja mengukir rekor sebagai pemain tercepat yang berhasil mencetak 15 gol dari 12 laga di Liga Champions. Ia mengalahkan Ruud van Nistelrooy dan Roberto Soldado yang baru bisa mengemas 15 gol dari 19 laga.

Rekor Haaland di Liga Champions itu hanya satu dari beragam torehan yang sudah masuk buku catatan sejarah pemuda kelahiran Leeds, Inggris tersebut.

Keberhasilan Haaland merengkuh trofi Golden Boy juga menjadi bukti anak dari eks Manchester City, Alf Inge Haaland itu punya kemampuan spesial. Namun yang patut diingat cerita soal pemain yang pernah meraih Golden Boy bukan melulu identik dengan kesuksesan di masa depan.

Trofi Golden Boy ini pertama kali diberikan kepada legenda timnas Belanda, Rafael van der Vaart tahun 2003. Sejak itu, pemain muda yang dianggap telah tampil istimewa bergantian berpose dengan trofi prestisius ini.

Dari 18 nama peraih trofi Golden Boy, tak sedikit yang sukses tapi tak sedikit pula yang akrab dengan kegagalan.

Wayne Rooney, Lionel Messi, Cesc Fabregas, Sergio Aguero, hingga Kylian Mbappe masuk dalam daftar ini. Sedangkan Anderson, Alexandre Pato, Mario Balotelli, Renato Sanches berada di kotak pemain yang gagal memenuhi ekspektasi.

Pato saat ini malah berkarier di klub China Tianjin Quanjian dengan usia masih 31 tahun setelah begitu dipuja-puja saat pertama kali gabung AC Milan. Hal yang sama juga berlaku untuk Renato Sanches yang gagal di Bayern Munchen dan pernah dipinjamkan ke Swansea City.

Sanches kini sedang berupaya menata ulang kariernya yang berantakan sejak memutuskan pindah di usia muda dari Benfica tahun 2016 lalu.

Balotelli malah lebih parah. Pemain berdarah Ghana itu disebut bakal menjadi salah satu striker top di dunia tetapi perangainya yang buruk membuatnya hanya sesaat dipuja-puja.

Balotelli makin akrab dengan kontroversi sejak hijrah ke Manchester City. Sejak itu, karier pemain kelahiran Palermo terus turun hingga kini berlabuh di klub Serie B, Monza.

Halaand bisa belajar dari pemain yang dia idolai yakni Cristiano Ronaldo. Berkat kerja keras, CR7 bertransformasi dari pemain yang mengandalkan kecepatan kaki untuk mengelabui lawan pada awal kariernya menjadi mesin gol yang sulit dihentikan pemain lawan.Kisah pahit para peraih gelar Golden Boy sudah sepatutnya jadi pengingat buat Haaland. Penyerang berusia 20 tahun itu harus berupaya untuk terus menaikkan level permainan demi meraih target yang lebih besar.

“Saya akan sangat senang untuk bertemu dengannya dan mengatakan bahwa saya jadi pesepakbola karena dirinya. Buat saya, dia selalu jadi anutan,” ucap Haaland suatu waktu.

Haaland lebih baik mematangkan kemampuannya di Dortmund yang percaya pada proyek pemain muda dalam beberapa tahun ke depan. Begitu siap, Haaland bisa menapaki jejak karier yang lebih tinggi dengan memperkuat klub papan atas Eropa untuk mengisi kariernya dengan gelimang gelar di kancah domestik maupun internasional.Dengan etos kerja sekuat Ronaldo, Haaland boleh berangan-angan bisa tetap awet berkarier di papan atas hingga akhirnya bisa meraih trofi Ballon d’Or di masa depan. Aspek lain yang juga patut diperhatikan, Haaland jangan sampai memilih klub yang akan jadi destinasi karier berikutnya.