Inter Milan dan Pirelli Pisah Setelah 27 Tahun

Kerja sama Pirelli dengan Inter Milan berakhir dan mulai musim depan kostum salah satu kontestan Liga Italia itu tak lagi dihiasi oleh Pirelli.

Inter Milan dan Pirelli adalah salah satu kerja sama klub dengan sponsor yang bertahan lama menghiasi dalam dunia sepak bola saat ini.

Sejak era 90-an, Pirelli sudah identik menghias kostum biru-hitam milik Inter. Ketika sejumlah tim besar berganti sponsor kostum seperti Manchester United dari Sharp ke berbagai sponsor hingga Chevrolet saat ini, ketika Liverpool yang dulu identik dengan Carlsberg kini menjadi Standard Chartered, Inter terus setia dengan perusahaan multinasional yang didirikan di Milan.

 

Hal yang sama juga terjadi di Italia. AC Milan yang di 90-an identik dengan Opel sudah berganti ke berbagai macam sponsor hingga kini dihias oleh Fly Emirates.

Inter Milan's Argentinian midfielder Esteban Cambiasso (R) and Inter Milan's Argentinian defender and captain Javier Aldemar Zanetti celebrate after winning the UEFA Champions League final football match Inter Milan against Bayern Munich at the Santiago Bernabeu stadium in Madrid on May 22, 2010. Inter Milan won the Champions League with a 2-0 victory over Bayern Munich in the final at the Santiago Bernabeu. Argentine striker Diego Milito scored both goals for Jose Mourinho's team who completed a treble of trophies this season.    AFP PHOTO / PIERRE-PHILIPPE MARCOU / AFP PHOTO / PIERRE-PHILIPPE MARCOUInter Milan sangat identik dengan Pirelli. Legenda Inter Milan, Javier Zanetti yang membela Nerazzuri dari 1995 hingga 2014. (AFP PHOTO / PIERRE-PHILIPPE MARCOU)

Namun kerja sama panjang Inter dengan Pirelli akhirnya usai. Dikutip dari BR Football, kerja sama yang sudah terjalin selama 27 tahun berakhir di pengujung musim.

Inter sendiri musim ini tengah difavoritkan untuk bisa jadi juara Liga Italia. Romelu Lukaku dan kawan-kawan kini mengoleksi 56 poin, unggul empat angka atas AC Milan yang ada di posisi kedua.

Inter terakhir kali juara Liga Italia pada 2009/2010 saat mereka meraih treble dan setelah momen itu, Inter tidak lagi bisa menjadi yang terbaik di Liga Italia.