Liga Berhenti saat Pandemi dan Serbasalah Main Tarkam

Geliat sepak bola tarikan kampung (tarkam) kembali muncul ke permukaan. Tarkam jadi pilihan sebagian pemain-pemain Liga 1 seiring vakum kompetisi di tanah air.

Kompetisi Liga 1 yang baru berlangsung tiga pekan sudah tertunda dua kali selama pandemi virus corona. Penundaan pertama terjadi pada September karena kasus virus corona yang masih tinggi di Indonesia.

Sebulan berselang, rencana PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) melanjutkan kompetisi kembali gagal terlaksana. PSSI dan PT LIB tidak mendapat izin dari kepolisian terkait situasi pandemi Covid-19.

 

PSSI dan PT LIB berencana melanjutkan Liga 1 2020 pada awal tahun 2021. Rencananya akan diputar kembali pada Februari 2021.

Penundaan kompetisi ini juga berlaku untuk Liga 2 dan kompetisi lainnya seperti Liga 3 hingga kompetisi kelompok umur. Liga 2 dan kompetisi di bawahnya malah belum sempat digelar karena seluruh kegiatan yang mengundang keramaian dihentikan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

 

Pemain Persib Bandung Frets Butuan (kiri) melewati penjaga gawang Persela Lamongan Recky Rahayu pada pertandingan pekan pertama Liga 1 Indonesia di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/3/2020). Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Persib Bandung dengan skor 3-0. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj.Liga 1 2020 mengalami penundaan hingga awal Februari 2021. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)

 

Kondisi ini membuat ‘mesin’ para pemain yang sudah dipanaskan harus kembali dimatikan. Padahal, pemain-pemain dari klub Liga 1 sudah sempat berlatih bersama sebelum diputuskan lanjutan kompetisi kasta tertinggi di tanah air kembali ditunda.

Begitu gelaran Liga 1 ditunda, klub-klub peserta kompetisi kompak untuk meliburkan pemain. Para pemain pun kembali mengalami penyesuaian gaji sesuai kebijakan klub masing-masing.

Pemain Persib Bandung dan Bali United mendapatkan gaji 50 persen untuk periode November-Desember. Sisanya klub-klub Liga 1 membayar 25 persen gaji pemain untuk periode yang sama.

Persib juga dengan tegas mewanti-wanti para pemainnya untuk tidak bermain tarkam atau fun games selama diliburkan. Sementara klub-klub lain bersikap lebih lunak, termasuk Persela Lamongan.

“Sementara ini pemain dibebaskan karena kepastian kompetisi simpang siur. Kalau merujuk regulasi kontrak, ya jelas tidak boleh. Tapi bagaimana lagi, kompetisi tidak jelas. Manajemen juga paham kondisinya,” kata pemain berusia 29 itu kepada CNNIndonesia.com.Kapten tim Persela Eky Taufik mengaku manajemen tidak mempermasalahkan jika ada pemain mereka yang bermain tarkam. Eky dapat bayaran Rp800 ribu hingga paling besar Rp2 juta per laga.

Sebagian pemain Liga 1 termasuk Eky menjadikan tarkam sebagai pilihan karena lanjutan kompetisi serba tidak pasti. Situasi ini hampir mirip saat sepak bola Indonesia dijatuhi sanksi oleh FIFA tahun 2015.

Banyak pesepak bola top di tanah air memilih bermain dari turnamen tarkam satu ke turnamen yang lain. Dalihnya mereka ingin mPadahal, dari segi bayaran khususnya yang bermain di Liga 1 dibayar cukup besar. Pemain lokal yang masuk kategori papan atas bisa mendapatkan Rp3-4 juta untuk satu pertandingan.

Sedangkan pemain asing biasanya dapat bayaran lebih besar. Bahkan pemain asing yang akan tampil dalam laga amal di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, dalam waktu dekat ini seperti Guilherme Batata dan Yevhen Bokhashvili (PSS Sleman) dibayar sampai Rp5 juta per pertandingan.

Jumlah itu memang tidak besar untuk ukuran gaji pemain dalam kondisi normal. Namun, dengan pemotongan gaji hingga 75 persen selama pandemi, tambahan pemasukan ditengarai bisa tetap membuat dapur mereka tetap ngebul.

Mantan pemain Timnas Indonesia dan legenda Manstrans Bandung Raya, Peri Sandria, memiliki penilaian tersendiri mengenai hal ini. Peri meminta para pemain profesional tidak bermain tarkam walau saat ini tengah dalam kondisi sulit karena gaji mereka hanya dibayar 25 persen.

Para pemain profesional diminta Peri untuk berpikir panjang sebelum memutuskan untuk bermain tarkam, terlepas dari apapun dalihnya. Baik itu mencari penghasilan tambahan atau menjaga kebugaran.

“Jangan main tarkam lah, soalnya tarkam nggak ada tanggung jawabnya. Kalau cedera sayang, nanti tidak bisa main lagi. Karena hanya bayaran sekian, terus cedera bagaimana?” ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

“Di satu sisi dapur harus dipikirin, karena dibayar hanya 25 persen tetapi itu risiko dalam kondisi ini. Kalau jaga kondisi supaya bugar jangan tarkam, kan bisa condition training, jogging. Sayang mereka pemain profesional, jangan jadikan alasan tarkam buat tetap bugar,” ia melanjutkan.

 

Sementara itu, pelatih Madura United Rahmad Darmawan merasa uang bukan jadi pertimbangan utama pemain memilih untuk bermain tarkam. Pelatih yang akrab disapa RD itu meyakini para pemain tersebut melampiaskan rasa rindu mereka bermain terhadap sepak bola.

Meski demikian, RD tak menutupi kemungkinan juga ada pemain-pemain yang memilih bermain tarkam karena masalah ekonomi.

“Pertama pemain melakukan itu bukan semata persoalan uang. Contoh di Madura United, pemain mengatakan enak latihan, ada kegiatan, berinteraksi dengan teman-teman [saat kompetisi belum kembali diundur, ada aktivitas profesi. Di rumah juga mereka bosan,” kata RD.

“Mereka mencari kesenangan mereka untuk bermain bola lagi. Kedua bisa karena masalah ekonomi. [Di Madura United], semua masih baik-baik saja belum dengar pemain-pemain ada main tarkam. Kalau ada tentu akan kami tanya.”