Liverpool vs Chelsea, 2 Pesakitan Berebut Zona Liga Champions

Liverpool dan Chelsea punya kesamaan di musim ini, yakni melupakan ambisi juara Liga Inggris. Kesamaan lainnya adalah menjadi pesakitan dan kini harus berebut masuk masuk zona Liga Champions di akhir musim ini.

Tapi pertanyaannya siapa di antara dua pesakitan ini yang berhak finis di empat besar musim ini?.

The Reds maupun The Blues musim ini benar-benar tampil di luar ekspektasi. Liverpool misalnya. Musim ini benar-benar tak seperti musim lalu. Performa mereka menurun drastis, tak segarang dulu.

 

Musim 2019/2020 menjadi tahun sangat luar biasa bagi kubu Anfiled Gank. Mereka tak cuma buka puasa gelar juara untuk pertama kali setelah 30 tahun lamanya, tetapi juga menjadi tim yang menakutkan.

Statistik Liverpool di Liga Inggris musim itu menunjukkannya. Dari 38 laga, mereka 32 kali menang dan imbang tiga kali. Hanya tiga laga yang berakhir kekalahan, itu pun pertama kali dialami di pekan ke-28 saat kalah dari Watford 0-3.

Artinya selama 27 pekan sebelumnya The Kop melesat dengan 26 menang dan cuma sekali seri. Mereka bahkan masih unggul 19 poin dari Manchester City kala itu.

 

 

Sebuah anomali tentunya bagi pasukan Jurgen Klopp yang di awal musim mengusung misi back to back alias dua kali juara Liga Inggris beruntun. Alih-alih menjadi tim penantang juara, Liverpool kini tak ubahnya tim medioker yang berjuang untuk bisa mendapat tiket ke kompetisi Eropa.Namun semua itu berubah di musim ini. Liverpool bak kembali ke masa-masa suram tahun-tahun lalu. Dari 26 laga yang sudah dimainkan Mohamed Salah cs musim ini, mereka sudah tujuh kali kalah, tujuh kali seri, dan baru mengemas 12 kemenangan.

Selain banyak pemain utama cedera, salah satu faktor lain menurunnya performa The Reds adalah taktik usang dari Klopp. Dengan mengandalkan gegenpressing dipadukan dengan agresivitas, taktik itu rasa-rasanya mulai terbaca lawan-lawan. Para lawan tampaknya mulai bisa mengantisipasi atau bahkan punya solusi terhadap taktik Klopp.

Satu contoh Manchester City yang berhasil mempermak Liverpool di Anfield dengan skor 4-1. Terlepas dari dua blunder Alisson Becker, taktik Josep Guardiola bukti nyata, The Citizens punya cara jitu menjinakkan gegenpressing.

 

Liverpool's manager Jurgen Klopp, left walks off the pitch with his players Liverpool's Andrew Robertson, centre and Liverpool's Divock Origi during the English Premier League soccer match between Liverpool and Everton at Anfield in Liverpool, England, Saturday, Feb. 20, 2021. Everton won the game 2-0. (Lawrence Griffiths/ Pool via AP)Liverpool di musim ini mengalami penurunan performa. (AP/Lawrence Griffiths).

Sama-sama menekankan high pressing, namun Raheem Sterling cs lebih fleksibel dalam bertahan maupun menyerang. Sementara Liverpool agak sedikit kaku dan terlalu agresif menekan yang berujung pada kelengahan yang berhasil dimanfaatkan Man City.

Chelsea juga sebelas dua belas, terutama ketika masih di tangan Frank Lampard. Chelsea tampil angin-anginan sedari awal musim ini.

Dari 19 pertandingan bersama Lampard, Chelsea sudah menelan enam kekalahan, lima kali seri, dan hanya delapan laga meraih kemenangan. Jelas torehan itu tak sebanding dengan duit yang dikucurkan untuk membeli mahal sejumlah pemain di awal musim 2020/2021.

Faktanya, pembelian pemain-pemain sekaliber Edouard Mendy, Timo Werner, Kai Havertz, hingga Hakim Ziyech tak menjamin Chelsea menuai hasil baik. Justru letak kesalahannya pada ketidakmampuan Lampard mengaplikasikan pemain-pemainnya pada taktik dan formasi yang diturunkan.

Lampard kerap memainkan formasi 4-3-3 namun tanpa memahami keinginan para pemainnya. Werner misalnya, yang berposisi asli sebagai penyerang tengah kerap diturunkan sebagai penyerang sayap.

Alhasil permainan Chelsea cenderung monoton, minim kreatifitas, dan kaku baik dalam menyerang maupun bertahan karena beberapa pemainnya bermain tidak dalam posisi alaminya.

Taktik yang lemah itu membuat Chelsea kesulitan di tiap laga, sampai akhirnya Lampard dipecat lalu digantikan Thomas Tuchel pada Januari tahun ini.