Madrid Beruntung Imbang Lawan Chelsea

 

Real Madrid readyviewed beruntung mendapatkan hasil imbang 1-1 melawan Chelsea di leg pertama babak semifinal Liga Champions di Stadion Alfredo Di Stefano, Rabu (28/4) dini hari waktu Indonesia.

Juara bertahan Liga Spanyol itu gagal memanfaatkan kesempatan bermain di kandang sendiri pada pertemuan pertama di babak semifinal ini melawan Chelsea.

Alih-alih tampil apik dan memenangkan pertandingan selayaknya leg pertama babak perempat final melawan Liverpool, Madrid justru kedodoran lewat permainan atraktif Chelsea sejak awal.

 

Perjudian pelatih Zinedine Zidane dengan memainkan pola 3-5-2 layak dijadikan faktor utama keteterannya tuan rumah dengan serangan The Blues.

Kubu Madrid sadar, di tangan Thomas Tuchel, serangan Chelsea begitu fleksibel dengan pola tiga pemain belakang dan empat pemain tengah, termasuk dua wingback.

Karena itu, Zidane menempatkan Marcelo dan Dani Carvajal sebagai wingback dengan harapan, memiliki fungsi yang efektif baik saat menyerang maupun bertahan.

Sementara, tiga gelandang yang diisi Toni Kroos, Casemiro, dan Luka Modric bisa memenangkan permainan di tengah agar nyaman menekan tim tamu.

Sayangnya, harapan itu bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Chelsea yang bisa dengan mudah ‘keluar-masuk’ area pertahan Madrid di babak pertama, terutama hingga pertandingan berjalan setengah jam.

 

Pada menit kedua, Chelsea mulai menyerang Madrid lewat umpan terobosan lambung Jorginho kepada Thomas Pulisic. Meski offside, Madrid seharusnya sadar sejak dini, bahwa upaya tersebut merupakan ancaman serius.

Intensitas serangan Chelsea nyata di awal-awal pertandingan. Klub asal Kota London itu lebih sering mendekati kotak penalti lawan ketimbang Madrid.

Kreativitas Mason Mount dan juga Pulisic cukup kesulitan dibendung pertahanan Madrid. Jika itu belum cukup, serangan Chelsea juga bisa bersumber dari kerja keras N’Golo Kante serta umpan-umpan terukur Jorginho.

Upaya sporadis Chelsea mengikis pertahanan Madrid nyaris membuahkan hasil pada menit ke-10. Sayang, Timo Werner kehilangan ketajamannya di depan gawang.

 

Soccer Football - Champions League - Semi Final First Leg - Real Madrid v Chelsea - Estadio Alfredo Di Stefano, Madrid, Spain - April 27, 2021 Chelsea's Christian Pulisic scores their first goal REUTERS/Sergio PerezChelsea begitu agresif di leg pertama. (REUTERS/SERGIO PEREZ)

Peluang emas Werner itu bermula dari serangan balik. Lalu Mount yang bisa sampai di kotak penalti lawan melepaskan umpan silang kepada Pulisic yang berada di tiang jauh.

Pulisic tidak dalam penjagaan ketat meski dibayang-bayangi Nacho Fernandez. Itu dibuktikan dengan pemain asal Amerika Serikat tersebut yang masih bisa memberikan umpan matang kepada Werner.

Hanya saja, sontekan Werner yang benar-benar tidak dijaga bek-bek Madrid dan hanya berhadapan dengan kiper Thibaut Courtois tidak bisa membawa Chelsea unggul di menit ke-10. Tendangan Werner diblok dengan kaki kanan Courtois.

Peluang emas Werner yang gagal itu seperti jadi kunci bagi Chelsea, bahwa mereka menemukan cara membuka pertahanan Madrid. Dan itu berhasil.

Chelsea makin percaya diri menggempur Los Blancos. Keluwesan Chelsea dalam menyerang nyata. Mereka tidak saja memainkan operan-operan pendek guna mendapatkan peluang di kotak penalti, tetapi juga lewat peran Cesar Azpilicueta dan Ben Chilwell.

 

 

Sebagai wingback, Chilwell sendiri tidak bertugas sebagai pengumpan bagi Werner maupun Pulisic. Dalam kesempatannya, mantan pemain Everton itu bisa melepaskan tembakan yang membuat gusar pertahanan Madrid.Di menit ke-11, umpan silang Azpilicueta bisa saja berujung gol andaikan sodoran kaki kanan Werner tiba di waktu yang tepat. Lantaran Werner terlambat, usaha Azpilicueta itu pun hanya sia-sia.

Werner yang sempat gagal sebagai penyerang utama pun tak selalu memaksakan diri. Striker asal Jerman itu juga tahu diri, bahwa dia bisa menarik diri sedikit ke belakang guna membuka ruang bagi Pulisic di depan.

Sampai akhirnya peringatan besar bagi Madrid muncul di menit ke-14 setelah Pulisic mencetak gol. Pertahanan Madrid yang tinggi lantaran memainkan tiga bek tengah kecolongan dengan pergerakan Pulisic yang menerima umpan Antonio Rudiger.

Assist Rudiger itu dituntaskan mantan pemain Borussia Dortmund tersebut dengan mengecoh Courtois sebelum menggetarkan gawang Madrid.

Lewat gol Pulisic, Chelsea seperti memberi isyarat kepada Madrid skema 3-5-2 yang mereka mainkan salah besar. Los Merengues terlihat tidak nyaman dengan formasi itu. Marcelo dan Dani Carvajal tidak terlihat efektif memainkan peran sebagai wingback.

Marcelo bisa menyerang hingga kotak penalti lawan layaknya seorang gelandang serang, tetapi tidak membahayakan The Blues.

Benar Madrid bisa menyamakan kedudukan pada menit ke-29 setelah setelah memanfaatkan assist Eder Militao. Namun harus diakui, itu karena pengalaman luar biasa Benzema sebagai striker papan atas, yang begitu klinis di depan gawang meski dijaga ketat pemain lawan.