Man Utd vs Roma: Adu Kuat Dua Gaya Berbeda

 

Bentrokan dua gaya sepak bola yang berbeda akan tersaji pada semifinal leg pertama Liga Europa antara Manchester United vs AS Roma di Old Trafford, Jumat (30/4) dini hari WIB.

Manchester United yang berbahaya melalui serangan balik akan menghadapi AS Roma yang berorientasi pada penguasaan bola.

Manchester United telah mencetak lebih banyak gol melalui serangan balik daripada tim Liga Inggris lainnya sejauh ini pada musim 2020/2021.

 

Di Liga Inggris, Manchester United bersama Leeds United jadi yang terbaik sebagai tim yang paling banyak memasukkan bola lewat serangan balik.

Berdasarkan statistik Premier League, Setan Merah dan Leeds mencatatkan enam gol yang berasal dari skema serangan balik di Liga Inggris musim ini.

“Ada dalam gen kami untuk cetak gol demi gol dari serangan balik, dan saya senang melihatnya, saya harus mengatakannya,” kata manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer dikutip dari laman resmi klub.

Manchester United's Edinson Cavani in action during the English Premier League soccer match between Tottenham Hotspur and Manchester United at the Tottenham Hotspur Stadium in London, Sunday, April 11, 2021. (Adrian Dennis/Pool via AP)Striker Manchester United Edinson Cavani menjadi ujung tombak dalam skema serangan balik Setan Merah. (Foto: AP/Adrian Dennis)

Di musim ini kekuatan serangan balik Manchester United tak lepas karena pemilihan formasi bermain mereka. Dengan menempatkan pemain cerdas seperti Paul Pogba dan dua pemain cepat Bruno Fernandes dan Marcus Rashford di second line serta Edinson Cavani sebagai ujung tombak dalam formasi 4-2-3-1 membuat MU leluasa untuk memaksimalkan serangan balik sebagai senjata utama.

Namun, Rashford masih diragukan penampilannya karena baru saja pulih. Peran Rashford bisa digantikan Mason Greenwood.

Selain itu Man United juga akan kembali diperkuat tiga pemain utama Harry Maguire, Luke Shaw, dan Scott McTominay yang kembali dari skorsing. Ketiganya absen pada pertandingan leg kedua perempat final Liga Europa melawan Granada.

Manchester United juga memiliki rekor apik tidak terkalahkan di Eropa setelah tersingkir dari Liga Champions sebelum Natal, dengan mengalahkan Real Sociedad (agregat 4-0), AC Milan (2-1) dan Granada (4-0) untuk mencapai fase ini.Kembalinya para pemain inti ini semakin menambah kepercayaan diri Manchester United untuk melakoni laga penting ini yang menjadi harapan terakhir Setan Merah dalam memperoleh gelar musim ini.

Manchester United pun akan bekerja keras pada pertandingan ini untuk dapat meraih keunggulan yang berguna untuk dibawa ke Roma, minggu depan.

Jika Ole Gunnar Solskjaer mengklaim permainan serangan balik telah menjadi gen Manchester United, AS Roma di bawah asuhan Paulo Fonseca lebih menyukai gaya permainan berbasis penguasaan bola.

“Memang benar Manchester United sangat berbahaya dalam serangan balik, tapi kami harus menyadari itu akan sangat sulit jika kami pergi ke Manchester dan hanya bertahan,” kata Fonseca dikutip dari laman klub Manchester United.

“Kami perlu menjaga bola dan menyulitkan mereka. Tim harus menunjukkan karakter dan tidak bertahan terlalu dalam,” ujar Fonseca menambahkan.

 

Berdasarkan data Whoscored, Roma mencatatkan rata-rata penguasaan bola 50,8% di Liga Europa dengan passing sukses mencapai 83,7%.

Angka ini tidak jauh berbeda dengan statistik Roma di Liga Italia dengan catatan penguasaan bola 51,5% dan passing sukses 84,4%.

Roma pun menjadi tim terbaik keenam dari sisi penguasaan bola di Liga Italia.

Namun, keunggulan permainan penguasaan bola saja tak cukup menjadi senjata bagi Roma untuk bisa mengatasi Manchester United.

Roma perlu menunjukkan permainan yang konsisten agar tidak terpuruk di Old Trafford. Sampai dengan saat ini, Serigala Roma itu masih bermasalah dengan grafik penampilan yang naik-turun.

Roma's Edin Dzeko after missing a chance during the Serie A soccer match between Lazio and Roma, at Rome's Olympic Stadium, Friday, Jan. 15, 2021. (AP Photo/Andrew Medichini)Striker AS Roma Edin Dzeko diharapkan bisa meningkatkan ketajamannya. (Foto: AP/Andrew Medichini)

Giallorossi kini hanya memenangkan satu dari lima pertandingan terakhir mereka. Ketajaman striker andalan Roma Edin Dzeko juga terus menurun setelah tak pernah mencetak gol dalam 13 pertandingan terakhir di Liga Italia.

Melihat kondisi tersebut, penguasaan bola saja tidak cukup bagi Roma untuk bisa meraih hasil terbaik di Old Trafford. Selain penguasaan bola, Giallorossi harus menampilkan permainan yang efektif dan lebih tajam dalam melancarkan serangan.

 

Roma juga harus bisa memaksimalkan peran mantan gelandang Manchester United Henrikh Mkhitaryan yang terbukti memiliki kecerdikan dan ketajaman. Mkhitaryan kini telah mencatatkan 11 gol dan 11 assist dalam 39 pertandingan musim ini.

Mkhitaryan pernah berseragam Manchester United pada periode 2016-2018. Selama dua tahun di Old Trafford, dia sukses mempersembahkan gelar Liga Europa dan Piala Liga Inggris.

Selepas pengabdiannya di Man United, Mkhitaryan menghabiskan dua musim bermain untuk klub Inggris lainnya, Arsenal. Dia kemudian dipinjamkan ke AS Roma pada 2019 dan diikat permanen setahun berikutnya.