Napas Segar Ginting di Grup Neraka BWF World Tour Finals

 

Anthony Ginting berada di grup neraka pada BWF World Tour Finals. Namun ia punya modal berupa napas yang lebih segar untuk lolos ke babak semifinal.

Berada satu grup dengan Axelsen dan Chou Tien Chen, Ginting jelas berada di grup neraka. Ia malah bersatu dengan dua pebulutangkis yang tampil hebat di dua rangkaian turnamen di Thailand sebelumnya.

Axelsen adalah juara di dua seri turnamen Thailand, sedangkan Chou Tien Chen selalu bisa masuk ke babak semifinal.

Sementara itu Ginting terbilang masih akrab dengan inkonsistensi. Setelah mencapai babak semifinal di Yonex Thailand Open, Ginting langsung terhenti di babak kedua turnamen Toyota Thailand Open.

Pebulu tangkis tunggal putra tunggal putra Jepang Kento Momota berusaha mengembalikan kok ke Denmark Viktor Axelsen pada babak final Blibli Indonesia Open 2018 di Istora, Jakarta (8/7). Pebulu tangkis Kento Mamoto mengalahkan Viktor Axelsen dengan skor 21-14/21-9.Viktor Axelsen dua kali juara di rangkaian turnamen di Thailand. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Namun di balik perbedaan pencapaian Ginting dengan dua pebulutangkis tersebut, Ginting juga punya keunggulan dibandingkan Axelsen dan Chou Tien Chen.

Keunggulan Ginting terletak pada napas Ginting yang di atas kertas seharusnya lebih segar dibandingkan Axelsen dan Chou Tien Chen.

Ginting kalah di hari Kamis pekan lalu dan baru bakal bertanding lagi Rabu (27/1) yang berarti ia punya waktu nyaris satu pekan untuk beristirahat, memulihkan diri, sekaligus menata fokus dan konsentrasi untuk pertandingan.

Sementara itu Axelsen selalu bermain hingga hari terakhir di dua turnamen yang telah dijalani dan hanya punya waktu jeda dua hari sebelum laga perdana di BWF World Tour Finals. Sedangkan Chou Tien Chen punya jeda waktu tiga hari untuk bersiap ke BWF World Tour Finals.

Dengan kondisi Ginting menghadapi Axelsen di laga perdana, Ginting dibekali waktu istirahat dan persiapan yang lebih baik dibanding sang lawan.

Tunggal putra, Anthony Ginting, tampil di semifinal BATC 2020.Anthony Ginting punya waktu istirahat yang lebih panjang dibanding Axelsen dan Chou Tien Chen. (Dok. PBSI)

Main di tiga turnamen beruntun tentu bakal sangat menguras fisik pemain, terlebih bila ia masuk final di dua turnamen tersebut. Lazimnya yang ada selama ini, pemain biasa bertarung di dua turnamen selama dua pekan beruntun. Turnamen di pekan ketiga secara beruntun tentu bakal menguras tenaga mereka.

Kondisi itu yang membuat Ginting bakal di atas angin bila dibandingkan Axelsen di laga perdana nanti, juga atas Chou Tien Chen.

Tanpa keunggulan stamina dan waktu istirahat, Ginting sejatinya tetap punya modal kuat untuk mengalahkan Axelsen. Lihat saja rekor head to head mereka yang ada di angka 4-3 untuk keunggulan Ginting.

Pada duel terakhir di Yonex Thailand Open, Ginting juga sejatinya mampu membuat Axelsen pontang-panting. Namun Ginting membuang peluang untuk menang.

Setelah unggul 11-7 di interval gim penentuan, Ginting seolah hilang di lapangan. Axelsen dengan mudah meraih angka demi angka tanpa perlawanan berarti dari Ginting di sisa laga.

 

Kesalahan di gim ketiga masih ditambah catatan bahwa di gim pertama sejatinya Ginting juga sempat unggul 19-17 sebelum Axelsen meraih empat poin beruntun untuk memenangkan gim pertama.

Tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting berhasil meraih medali emas setelah mengungguli Atlet Denmark Anders Antonsen di Final Daihatsu Indonesia Masters 2020.Jakarta. Minggu (19/1/2020). CNN Indonesia/Andry NovelinoAnthony Ginting unggul head to head atas lawan-lawannya di grup A. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Kekalahan Ginting di babak kedua Toyota Thailand Open pekan lalu juga menggambarkan kondisi Ginting yang bisa tiba-tiba ‘hilang’ di tengah pertarungan. Ginting membuang peluang menang di gim pertama ketika ia sudah unggul 17-10 dan akhirnya kalah lewat rubber game.

Dari gambaran umum penampilan Ginting, ia punya modal bagus untuk bisa lolos dari grup neraka.

Ginting terbilang sudah bisa menemukan ritme permainan yang ia inginkan di laga-laga yang dijalani meski hal itu kemudian dibuyarkan inkonsistensi yang bisa tiba-tiba datang menyerang Ginting di tengah laga.

Laga lawan Chou Tien Chen juga tentu tidak akan mudah bagi Ginting, namun begitu pula bila melihat dari sudut pandang Chou Tien Chen. Ginting akan selalu jadi lawan yang bakal menguras tenaga Chou Tien Chen di tiap kali mereka bertemu.Selain Axelsen, Ginting juga punya modal keunggulan head to head melawan Chou Tien Chen (6-5) dan Lee Zii Jia (2-0). Hal inilah yang sepatutnya membuat Ginting tak gentar dan percaya bisa selamat dari grup neraka ini.

Pebulu tangkis Taiwan Chou Tien Chen meluapkan kegembiraan saat mendapatkan skor ketika melawan pebulu tangkis Denmark Anders Antonsen pada babak final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (21/7/2019). Tien Chen menjuarai Indonesia Open 2019 nomor tunggal putra usai mengalahkan Antonsen dengan skor 21-18, 24-26, dan 21-15 . ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.Duel Ginting vs Chou Tien Chen juga selalu menghadirkan laga seru. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

Lee Zii Jia yang otomatis jadi underdog di grup ini juga tak bisa dipandang sebelah mata. Dia adalah pemain yang paling tak terbebani untuk lolos di grup ini sehingga bakal selalu menikmati momen permainan.

Ginting tak perlu gentar berada di grup neraka karena ia punya modal bagus di dalamnya, baik dari segi teknik di lapangan maupun modal pendukung berupa waktu istirahat dan persiapan yang lebih matang.

Satu hal yang mesti diingat Ginting adalah ia tak boleh lagi membiarkan inkonsistensi tiba-tiba muncul merusak permainan dan menyadari bahwa tujuannya di turnamen BWF World Tour Finals bukan sekadar lolos dari grup neraka, melainkan membidik gelar juara.