Presiden Baru Barcelona dan Arah Angin Lionel Messi

 

Barcelona dipastikan bakal segera punya presiden baru usai  Josep Maria Bartomeu mengundurkan diri beberapa minggu lalu. Namun tetap saja tak ada yang bisa menggaransi masa depan Lionel Messi di Camp Nou.

Bartomeu mulai menjabat presiden pada 2013 lalu. Dia yang sebelumnya wakil presiden naik jabatan usai Sandro Rossel mengundurkan diri terkait transfer Neymar Jr dari Santos.

Tujuh tahun Bartoemu menjabat presiden, Barcelona mencapai sejumlah prestasi. Salah satunya treble winner pada 2015, yakni juara Liga Spanyol, Copa del Rey, dan Liga Champions. Itu adalah treble kedua Barcelona setelah Josep Guardiola melakukannya pada 2008.

 

Saat itu Barcelona dilatih Luis Enrique, eks pemainnya sama seperti Guardiola. Sama seperti Pep, Enrique juga meraih treble di tahun pertama melatih Blaugrana.

Setelah itu, Barcelona dinakhodai Ernesto Valverde. Di bawah kendali Valverde, Gerard Pique dan kawan-kawan tetap tampil bagus, meski tak lagi memenangi trofi Kuping Besar.

Bersama Valvedre sejak 2017, Barcelona hanya perkasa di kancah domestik dengan menjuarai dua kali Liga Spanyol serta sekali Copa del Rey dan Super Spanyol.

Bartomeu kemudian memecat Valverde awal 2020 ketika Barcelona memuncaki klasemen. Dia digantikan Quique Setien yang dinilai banyak pihak bukan pelatih tepat untuk Barcelona.

Penilaian itu terbukti benar. Di tangan Setien, Barcelona malah berjalan mundur. Tergelincir dari puncak klasemen hingga akhir musim, terdepak dari Copa del Rey di perempat final, lalu dihajar Bayern Munchen 2-8 di perempat final Liga Champions.

Tak cuma itu, Barcelona dilanda konflik. Messi terang-terangan menyatakan ingin angkat kaki dari Camp Nou. Berdasarkan perjanjian dengan Bartomeu bisa pergi dengan gratis di akhir musim.

Dewan Barcelona menyatakan klausul itu sudah kedaluwarsa sejak Juli. Sementara pihak Messi menganggap musim berakhir Agustus karena sempat tertunda pandemi virus corona.

Di tengah saga tersebut, Messi akhirnya bertahan dan berdamai karena tak mau melawan klubnya di pengadilan.

Sayang, Messi tampak setengah hati menjalani sisa kontraknya yang berakhir pertengahan tahun depan. Apalagi kepergian Luis Suarez yang dibuang Bartomeu ke Atletico Madrid makin membuat Messi bukan lagi La Pulga yang gila seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ribut-ribut Messi sejatinya bukan hanya dengan dewan, tetapi juga ternyata dengan Setien.

Belakangan Setien mengaku tak dihargai Messi. Puncaknya ketika Barcelona bertandang ke Stadion Baladios, Celta Vigo, Messi mencueki Setien yang tengah memberi arahan di pinggir lapangan ketika water break.

Setien menyebut bahwa Messi menjadi salah satu pemain senior yang sulit diatur. Bahkan Setien juga pernah mengusir Messi jika tak suka dengannya.

Barcelona's Lionel Messi, left, shakes hands as he is substituted with Barcelona's coach Ronald Koeman as he is substituted during the pre-season friendly soccer match between Barcelona and Girona at the Johan Cruyff Stadium in Barcelona, Spain, Wednesday, Sept. 16, 2020. (AP Photo/Joan Monfort)Di bawah Ronald Koeman, Lionel Messi tetap jadi andalan. (AP/Joan Monfort).

Loyalitas yang Diragukan

Di era pelatih anyar Ronald Koeman, Messi memang masih jadi andalan. Namun performanya tak seaduhai dulu.

Lihat saja catatannya sejak awal musim ini. Dia baru mencetak enam gol di semua ajang, lima di antaranya lewat titik putih.

Catatan itu tak biasanya diukir Messi. Faktor konflik dengan Bartomeu dan kepergian Suarez tentu sangat berpengaruh, selain faktor usia.

Messi yang diplot Koeman sebagai false 9 diberi keleluasaan untuk bergerak bebas. Ketika dia menjadi false 9, tak ada lagi pemain-pemain yang bisa mengerti Messi, kecuali Jordi Alba–itu pun beberapa kali mulai terbaca lawan.

Karena tak ada ‘kawan’ di lapangan Messi terpaksa kerap menjadi pengatur serangan dengan menjemput bola dari lini tengah. Lagi-lagi ketika dia menjadi kreator, tak ada pemain di lini depan Cules yang setajam Suarez dan mampu sinkron dengan Messi.

Antoine Griezmann yang dibeli mahal belum bisa unjuk gigi. Dia kesulitan klop main bareng Messi. Pun begitu dengan Ansu Fati dan Ousmane Dembele yang terkadang juga kurang baik berkoordinasi dengan Messi.

Francisco Trincao juga jelas karena baru datang ke Barcelona musim ini masih butuh adaptasi. Lalu Martin Braithwhite, semua orang juga tahu ‘kualitas’ pemain Denmark itu seperti apa.

Ketiadaan ‘kawan’ seperti Suarez tentu membuat Messi kian sulit. Hal itu juga yang membuat loyalitas Messi kepada Barcelona diragukan.

Messi tentu ingin meraih juara Liga Champions setidaknya sekali lagi sebelum dia benar-benar pensiun. Sementara skuat baru Barcelona musim ini sulit untuk menuju ke tangga juara.

Meski di sisi lain Bartomeu sudah pergi, namun kenyataan di atas yang bisa memudarkan kesetiaannya berseragam biru-merah.

Artinya belum ada jaminan bahwa Messi tetap di Barcelona tahun depan.Kontrak yang tersisa beberapa bulan lagi juga menjadi faktor. Sampai detik ini, belum ada kalimat ‘saya ingin bertahan dan memperbarui kontrak bersama Barcelona’ yang keluar dari Messi.

Belum lagi Manchester City dan sejumlah klub terus memantau megabintang Argentina tersebut. Jelas meski sudah berusia senja, memiliki Messi di tim sangat berharga dan menambah kekuatan dalam persaingan juara.

Former Barcelona's President Joan Laporta leaves after paying tribute to late Dutch football star Johan Cruyff in a special condolence area set up at Camp Nou stadium, in Barcelona on March 26, 2016. - Cruyff, one of the greatest footballers of all time who dazzled with his artistry, died on March 24, 2016 at the age of 68 after losing a battle with lung cancer, prompting an avalanche of tributes from around the sports world. (Photo by LLUIS GENE / AFP)Joan Laporta menjadi salah satu kandidat presiden baru Barcelona 20201. (Photo by LLUIS GENE / AFP).

Presiden Baru

Satu-satunya yang bisa membuat Messi bisa bertahan adalah siapa presiden Barcelona selanjutnya. Setidaknya ada lima sampai enam calon, di antaranya Joan Laporta, Victor Font, dan Toni Freixa.

Dari ketiganya, Laporta menjadi sosok yang bisa saja membuat Messi bertahan. Laporta adalah presiden Barcelona 2003-2010. Di era dialah, Messi promosi ke tim utama.

Pun dengan banyak raihan gelar baik individu maupun tim dicapai Messi dan Barcelona di bawah kendali Laporta bersama Frank Rijkaard dan Pep Guardiola.

Bersama Rijkaard Barcelona mengakhiri puasa gelar Liga Spanyol sejak 1999. Dua gelar liga dikantongi Rijkaard pada 2004/2005 dan 2005/2006.

Barcelona juga jadi juara Liga Champions pada 2006 sejak terakhir kali 1991. Barcelona pun mulai kembali berjaya di Liga Spanyol dan Eropa.

Kegemilangan Barcelona makin menggila ketika Laporta pada 2008 begitu memercayai Guardiola yang datang dari pelatih junior menggantikan Rijkaard. Hasilnya luar biasa. Barcelona meraih sextuple pada 2008-2009.

Barcelona juga juara Liga Spanyol beruntun 2008/2009, 2009/2010, dan 2010/2011. Barcelona juga meraih Liga Champions dua kali pada 2008/2009 dan 2010/2011.

Sementara Messi kian mengilap dengan meraih Ballon d’Or pada 2009 dan 2010. Semua terjadi di era Laporta.

Tentu jika Laporta terpilih pada pemilihan presiden yang dijadwalkan Maret 2021 (bisa dipercepat sebelum pergantian tahun tergantung situasi), bukan tak mungkin Messi akan bertahan di Barcelona dan mulai membangun ulang skuat juara Barcelona sebelum pensiun.