Ujian Koeman Itu Bernama Real Madrid

 

El Clasico jilid pertama musim 2020/2021 antara Barcelona versus Real Madrid akhir pekan ini menjadi ajang pembuktian sesungguhnya bagi Ronald Koeman.

Koeman datang ke Barcelona untuk membangun kembali skuat Blaugrana setelah berantakan di musim lalu. Lionel Messi cs sama sekali tak meraih gelar apapun musim 2019/2020.

Barca gagal di Copa Del Rey. Mereka ditendang dari turnamen oleh Athletic Bilbao di babak perempat final.

 

Di ajang Liga Spanyol, Barca yang sempat memimpin klasemen terpeleset di beberapa laga. Posisi puncak pun diambil seteru mereka, Real Madrid yang terus bertahan hingga akhir musim.

Di Liga Champions lebih parah lagi. Alih-alih meraih gelar tersisa, mereka justru dipermak 2-8 Bayern Munchen di semifinal. Itu menjadi kekalahan terbesar Cules sejak 1946.

Terakhir kali Barca kalah dengan kemasukan delapan gol adalah saat takluk 0-8 dari Sevilla di babak 16 besar Copa del Rey pada 1946.

Usai kekalahan itu internal Barcelona pun gonjang-ganjing. Banyak pihak meminta Presiden Josep Maria Bartomeu mundur. Ujung-ujungnya megabintang mereka, Messi menyatakan ingin pergi.

Seiring waktu Messi memilih bertahan dan berdamai dengan Barcelona. Azulgrana pun mendatangkan sejumlah pemain, namun juga membuang pemain-pemain yang tidak dibutuhkan, salah satunya sahabat Messi, Luis Suarez.

Kehilangan Suarez ternyata tidak diiringi dengan pembelian yang sepadan. Barcelona praktis hanya mendatang pemain-pemain muda atau mempromosikan jebolan La Mesia.

Buruan mereka, yakni Memphis Depay justru gagal diboyong. Barca tak punya duit untuk mendatangkan pemain Belanda tersebut.Di lini depan Fransisco Trincao didatangkan dari Braga. Namun dia berposisi sebagai penyerang sayap, bukan striker nomor 9.

Di posisi lain ada Miralem Pjanic, Pedri, Serginho Dest, serta mempromosikan Ansu Fati dan Konrad Fuente. Selain Ansu Fati, nama-nama lain masih harus membuktikan diri.

Dengan komposisi sekitar 80 persen muka-muka lama Koeman pun meracik formasi yang dianggap tepat. Koeman mengubah pakem lama Barca 4-3-3 menjadi 4-2-3-1. Dengan formasi tersebut, Koeman ingin pertahanan Barca lebih kuat karena ada dua gelandang bertahan.

Di depan gelandang bertahan ada Philippe Countiho yang kembali dari masa pinjaman di Bayern Munchen. Pemain Brasil itu diberi keleluasaan sebagai playmaker.

Lini depan diisi Ansu Fati, Lionel Messi, Antoine Griezmann. Hanya Griezmann yang belum bertaji sejauh ini.

Koeman sejatinya cukup berhasil. Dari empat pertandingan di Liga, Barca menang tiga kali dan kalah sekali. Mereka juga sudah mencetak delapan gol dan kebobolan dua.

Secara permainan Barcelona memang menjadi lebih tajam di depan. Meski baru kebobolan dua gol, namun bukan berarti pertahanan mereka kokoh. Ini masalah klasik Barca.

Netherlands' coach Ronald Koeman holds the ball during the UEFA Nations League final football match between Portugal and The Netherlands at the Dragao Stadium in Porto on June 9, 2019. (Photo by GABRIEL BOUYS / AFP)Ronald Koeman didatangkan untuk membangun kembali skuat juara Barcelona. (AFP/GABRIEL BOUYS).

Beberapa kali Gerard Pique cs kelabakan menghadapi serangan balik. Untungnya pemain lawan gagal memanfaatkannya dengan baik.

Sementara dua gol yang bersarang ke gawang Neto di ajang liga berasal dari situasi bola mati, satu lewat sepak pojok saat lawan Sevilla dan satu lagi dari penalti ketika kalah dari Getafe. Pun ketika menang 5-1 melawan Ferencvaros di Liga Champions kemarin malam, mereka kebobolan lewat titik putih.

Hal berbeda tentu bisa terjadi ketika mereka bertemu musuh abadi, Real Madrid. Los Blancos terkenal dengan serangan balik mematikan. Barca harus waspada akan hal tersebut.

Koeman harus benar-benar membuktikan di El Clasico bahwa dia adalah pelatih tepat yang didatangkan untuk mengembalikan kekuatan Barca.

Ancaman Nyata Real Madrid

Real juga bukan tanpa masalah. Musim ini mereka sama sekali tak mendatangkan pemain baru. Yang ada Gareth Bale malah dipinjamkan ke Tottenham Hotspur karena tak diinginkan Zinedine Zidane.

Sementara Eden Hazard malah masih berkutat dengan cedera dan kebugaran. Praktis, Zidane hanya punya Vinicius Junior, Marco Asensio, Lucas Vasquez, karim Benzema, Luka Jovic, dan Mariano Diaz di depan.

Dengan formasi yang sama, 4-3-3, Real Madrid juga cukup sukses di lima laga awal Liga Spanyol. Mereka mengantongi tiga kemenangan, satu seri, dan satu kekalahan. Mencetak enam gol dan kemasukan tiga gol.

Di bawah asuhan Zidane El Real sebetulnya tangguh di lini tengah. Mereka punya petarung kelas wahid pada diri Casemiro, Luka Modric, dan Toni Kross.

Real Madrid's head coach Zinedine Zidane looks at the field during the Spanish La Liga soccer match between Real Madrid and Getafe at the Alfredo di Stefano stadium in Madrid, Spain, Thursday, July 2, 2020. (AP Photo/Bernat Armangue)Zinedine Zidane perlu membenahi lini belakang Real Madrid yang kerap bermain inkonsisten. (AP/Bernat Armangue).

Hanya saja lini belakang mereka juga tak kuat-kuat amat. Sergio Ramos yang sudah menua kerap bermain labil. Sementara Raphael Varane juga sering tampil inkosisten.

Sementara bek sayap Dani Carvajal dan Marcelo beberapa kali terlambat mundur ketika asik membantu serangan.

Ketidakstabilan lini belakang Madrid itu terlihat jelas ketika kalah 2-3 dari Shaktar Donetsk di Liga Champions tadi malam. Bahkan mereka tertinggal 0-3 lebih dulu di babak pertama

Bek-bek mereka tak bermain solid. Varane bahkan membuat gol bunuh diri. Itu membuktikan Zidane harus mencari solusi agar lini belakang mereka bermain lebih apik lagi menghadapi El Clasico.

Berkaca pada El Clasico terakhir (Madrid menang 2-0), Zidane sejatinya sudah tahu menjinakkan Barca, yakni dengan mematikan Messi. Messi tak perlu dikawal ketat oleh satu pemain khusus. Zidane cukup melakukan penjagaan zona dengan beberapa pemain terdekat untuk menghentikan pergerakan Messi.

Zidane juga perlu meminta anak asuhnya bermain melebar dan menyisir dari sayap guna memanfaatkan celah yang ditinggalkan dua bek sayap Barca. Tapi dengan catatan dua bek sayap El Real juga cepat turun ketika kehilangan bola.

Vinicius bisa diandalkan untuk urusan menyisir sayap tersebut. Beberapa kali striker Brasil itu melakukan penetrasi yang diakhiri gol maupun umpan tarik matang ke kotak penalti.

Jadi El Clasico ini bisa juga menjadi ajang pembuktian bagi Zidane bahwa skuat ‘seadanya’ musim ini cukup tangguh untuk bersaing meraih gelar.