Awas Liverpool, Man City Kini Menduplikasi Gegenpressing

Bigmatch Liga Inggris antara Liverpool vs Manchester City diprediksi bakal menjadi pertarungan dua tim penganut gegenpressing.
Liverpool akan menjamu Man City di Stadion Anfield, Minggu (3/10). Kedua tim ini punya kualitas mumpuni yang dapat menghancurkan lawan manapun jika dibiarkan bermain dengan cara mereka sendiri.

Istilah gegenpressing memang kadung melekat kepada Jurgen Klopp dan ditularkan dengan sempurna saat menangani Liverpool. Tapi, The Guardian menganalisa, City saat ini punya karakter tak jauh beda, yakni dengan menerapkan garis pertahan tinggi sejak di daerah lawan.

Duel penguasaan bola bisa jadi penentu akhir di laga ini. Man City telah membuktikan kualitasnya saat mengalahkan Chelsea 1-0 lewat gol Gabriel Jesus pekan lalu.

Tak hanya unggul penguasaan bola sebanyak 62 persen dari Chelsea, skuad arahan Pep Guardiola juga efektif melakukan pressing tinggi yang membuat The Blues kesulitan membangun serangan dari bawah.

Secara keseluruhan, The Citizens sukses membuyarkan skenario permainan Chelsea untuk bermain dari belakang. Kuncinya, para penyerang mereka tak kenal lelah membantu pertahanan di sepertiga akhir area lawan.

Kesuksesan Man City atas Chelsea berusaha diulang kembali saat melawan Liverpool. Namun, Pep Guardiola harus mencambuk mental pemainnya yang sempat ambruk karena kekalahan 0-2 dari Paris Saint Germain di Liga Champions.

Selain itu, Man City juga butuh kesiapan fisik untuk menerapkan pressing tinggi. Kebugaran pemain harus prima meski baru melakoni dua pertandingan berat nan melelahkan.

Pertahanan Manchester Biru pun layak mendapat pujian karena baru kemasukan satu gol dari enam pertandingan liga. Namun, pertahanan solid ini tidak akan bisa sempurna tanpa bantuan dari penyerang.

Gabriel Jesus, Phil Foden, maupun Jack Grealish menjadi kunci untuk memeragakan pressing tinggi. Grealish jadi satu-satunya pemain yang harus beradaptasi dengan karakter dan keinginan Guardiola.

Bukan rahasia lagi jika Man City memang dominan dalam penguasaan bola. Terlebih jika menghadapi tim yang kualitasnya di bawah mereka. Namun, Gabriel Jesus dkk harus menunjukkan effort yang lebih besar saat menghadapi Liverpool yang dikenal dengan filosofi gegenpressing.

Liverpool era Jurgen Klopp adalah tim yang agresif dalam menyerang maupun bertahan. Garis pertahanan tinggi sudah jadi senjata utama untuk mematikan lawan-lawan mereka.
Sadio Mane, Diogo Jota, dan Mohamed Salah rajin mengganggu lawan yang sedang memegang bola di daerahnya sendiri. Namun, pertahanan The Reds bukan tanpa celah. Pekan lalu tim promosi Brentford membuka wawasan banyak orang tentang cara membongkar pertahanan Liverpool.

Brentford bahkan sempat unggul lebih dulu meski akhirnya harus puas bermain imbang dengan skor 3-3. Hasil imbang tersebut membuktikan Liverpool sedang bermasalah.

Trio lini tengah Liverpool; Jordan Henderson, Fabinho, Curtis Jones harus tampil prima di sepanjang laga untuk merusak dominasi Kevin De Bruyne dkk. Jika tidak, maka City bakal leluasa menguasai lini tengah.

Namun, perlu diingat kesuksesan Klopp bersama Liverpool adalah lewat permainan gegenpressing. Hasilnya, The Reds sukses memboyong trofi Liga Champions dan Liga Inggris.

Klopp adalah master gegenpressing. Taktik jitunya itu pernah membuat tim raksasa Bayern Munchen kelabakan meladeni Borussia Dortmund.

Strategi itu adalah obat jitu untuk meladeni tim bertabur bintang yang mengandalkan ball possession. Klopp memaksa 2-3 pemainnya untuk menutup pergerakan dan jalur operan satu pemain lawan yang sedang menguasai bola yang berada pada wilayah pertahanannya sendiri.

Jika gegenpressing Klopp bisa berjalan dengan baik, maka peluang untuk menaklukkan City terbuka lebar.

Namun, Pep Guardiola juga tahu betul karakter Liverpool di bawah kendali Klopp. Man City kemungkinan besar bakal menerapkan strategi tak jauh berbeda, yakni menerapkan garis pertahanan tinggi untuk meladeni gegenpressing Liverpool.

Maka, pemenang duel ini adalah tim yang paling prima bergerak sepanjang laga. Tak ada waktu untuk menunggu serangan lawan. Sebaliknya, bertahan sejak dini juga diwajibkan.