Atalanta vs Real Madrid di Liga Champions kali ini tidak bisa disetarakan pertarungan David vs Goliath karena La Dea kini cukup meyakinkan dan Los Blancos sedang tak menakutkan. Justru sebaliknya, kali ini Atalanta yang bisa dikategorikan sebagai Goliath

Evolusi Atalanta masih berada di jalurnya. Klub asal Bergamo, Italia, itu cukup konsisten berada di persaingan papan atas kompetisi domestik juga kontinental.

Jika di Italia berada di peringkat kelima dan masih memiliki kans merecoki zona empat besar, maka Atalanta di Liga Champions masih punya peluang besar mengulang capaian musim lalu ketika berhasil masuk ke babak perempat final.

 

Di babak 16 besar, Atalanta yang memiliki julukan La Dea atau Dewi akan menghadapi Madrid. Namun kali ini Atalanta tak dianggap remeh, justru sebaliknya klub biru hitam tersebut dianggap punya kemampuan mengatasi perlawanan Los Merengues yang sedang pincang.

Atalanta musim ini tak beda jauh dengan musim lalu. Anak asuh Gian Piero Gasperini mampu menjawab tantangan di pentas Eropa. Meski sempat mengalami kekalahan 0-5 dari Liverpool, Gli Orobici kemudian mampu membalas dengan kemenangan 2-0 atas The Reds.

Dua kemenangan atas Ajax dan Midtjylland serta dua hasil seri melawan wakil Belanda dan Denmark itu membuat Atalanta lolos dari Grup D sebagai runner up.

Atalanta's Colombian forward Duvan Zapata celebrates scoring his team's first goal during the UEFA Champions League group D football match, between Atalanta and Ajax at the Atleti Azzurri d'Italia stadium in Bergamo, northern Italy, on October 27, 2020. (Photo by MIGUEL MEDINA / AFP)Duvan Zapata andalan Atalanta di lini depan. (Photo by MIGUEL MEDINA / AFP)

Berada lama di bawah arahan Gasperini, sejak 2016, Atalanta sudah berpengalman dengan formasi 3-4-3 yang cukup ofensif. Kemampuan gelandang-gelandang dan pemain depan bermain secara cair menjadi andalan Gasperini.

Di situ Duvan Zapata, Luis Muriel, Josip Ilicic, Marten De Roon, Hans Hateboer, Papu Gomez dan Remo Freuler memainkan peran penting.

Permainan penuh energi adalah ciri khas Atalanta yang bisa merepotkan Madrid saat bermain di Stadion Atleti Azzurri.

Guna memaksimalkan kesempatan bermain kandang di leg pertama, Atalanta bisa memainkan permainan yang menyerang dengan garis pertahanan tinggi untuk terus menekan Madrid dan membuat permainan berjalan satu arah saja.

Kandang Atalanta jadi saksi bagaimana Zapata dan kawan-kawan mencetak 53 gol di Serie A dan menjadi kesebelasan tersubur kedua di Liga Italia. Meski demikian ada fakta mereka digulingkan lima gol tanpa balas ketika menjamu Liverpool.

Ketersediaan pemain membuat Gasperini bisa bebas memilih pemain. Hingga H-1 dipastikan hanya Hateboer yang absen. Sementara pemain-pemain lain bisa berharap ditempatkan menjadi starter untuk menjadi pelaku sejarah menghadapi pemilik gelar terbanyak di Liga Champions.

Kenangan akan keberhasilan mengalahkan Valencia pada babak 16 besar Liga Champions musim lalu bakal mengangkat moral Atalanta ketika menghadapi Madrid di fase yang sama musim ini.

Jika musim lalu Atalanta diibaratkan sebagai Cinderella karena kisah yang mengejutkan, dan nyaris menembus semifinal, musim ini Atalanta sudah menjadi klub yang berpengalaman dan sudah diantisipasi oleh banyak klub lain termasuk Madrid yang harap-harap cemas menjalani laga tandang kali ini.

Real Madrid yang akan menghadapi Atalanta bukan kesebelasan dengan penuh ancaman. Skuat El Real yang bertamu ke Italia adalah pasukan seadanya yang datang dari ibu kota Spanyol.

Madrid datang dengan kekuatan minim karena terkendala cedera. Karim Benzema menyusul Eden Hazard, Rodrygo, Sergio Ramos, Marcelo, Eder Militao, Daniel Carvajal dan Federico Valverde yang sedang dalam masa pemulihan.

Pelatih Zinedine Zidane pun hanya bisa membawa 12 pemain senior dalam leg pertama babak 16 besar kali ini. Dengan keadaan seperti itu, bisa diperkirakan Madrid akan bermain dengan formasi 4-3-3 yang dihuni Thibaut Courtois, Lucas Vazquez, Raphael Varane, Nacho Fernandez, Ferland Mendy, Casemiro, Toni Kroos, Luka Modric, Marcos Asensio, Mariano Diaz, dan Vinicius Jr.

 

Kondisi yang ada membuat perburuan gelar ke-14 di Liga Champions menipis. Semua sekarang tergantung kepada Zidane apakah bakal tetap memprioritaskan mengejar Atletico Madrid di Liga Spanyol atau meraih kejayaan di Eropa atau tetap memperjuangkan dua mahkota tersisa setelah tumbang di Copa del Rey dan Piala Super Spanyol.

Real Madrid's Karim Benzema celebrates after scoring his side's second goal during the Spanish La Liga soccer match between Alaves and Real Madrid at Mendizorroza stadium in Vitoria, Spain, Saturday, Jan. 23, 2021. (AP Photo/Alvaro Barrientos)Karim Benzema mengalami cedera dan tidak akan bermain dalam laga Atalanta vs Real Madrid. (AP Photo/Alvaro Barrientos)

Madrid musim ini benar-benar menampakkan sisi lain. Tak lagi mencerminkan kekuatan utama sepak bola Eropa. Di Liga Champions Los Blancos harus memastikan tiket ke fase gugur hingga laga terakhir.

Mengawali perjalanan dengan kekalahan dari Shakhtar Donetsk, Madrid kemudian ditahan imbang Borussia Monchengladbach dan baru meraih kemenangan ketika bertemu Inter Milan, itu pun hanya tipis.

Moenchengladbach's Matthias Ginter, left, jumps for the ball with Real Madrid's Casemiro during the Champions League group B soccer match between Borussia Moenchengladbach and Real Madrid at the Borussia Park in Moenchengladbach, Germany, Tuesday, Oct. 27, 2020. (AP Photo/Martin Meissner)Real Madrid sempat kesulitan di fase grup Liga Champions. (AP Photo/Martin Meissner)

Setelah kemenangan kedua atas Inter, Madrid lantas kembali kalah dari Donetsk sebelum kemenangan atas Gladbach menjadi tiket penentu kelolosan dari Grup B dengan status juara grup.

Kepayahan Madrid menghadapi Donetsk, Gladbach, dan Inter bisa menjadi tolok ukur bagaimana Casemiro dan kawan-kawan menghadapi Atalanta.

Melawan Atalanta dalam dua leg bukan tugas mudah bagi Zidane dan anak asuhnya. Sebuah keteledoran bisa menjadi awal petaka bagi Madrid.

Namun Madrid memiliki modal yang cukup bagus dengan meraih kemenangan dalam empat laga terakhir dan membukukan tiga clean sheet dalam tiga laga terkini.

Nama besar Zidane sebagai pelatih akan dipertaruhkan dalam pertandingan kali ini sekaligus untuk menegaskan bahwa mantan gelandang timnas Prancis itu tak semata didukung keberuntungan semata dalam menangani Madrid.