Marquez: Di MotoGP Thailand, Saya Perlu Menerapkan Strategi Berbeda

Meski gagal menuntaskan MotoGP Jepang di podium, andalan Repsol Honda mendapat hadiah hiburan dengan finis P4. Performa lengan kanannya terus membaik meski Sirkuit Motegi diklaim sangat menuntut fisik. Ia sangat terbantu dengan trek basah yang membuat motornya meluncur

Catatan bagus lainnya adalah mampu melancarkan serangan sekaligus menyingkirkan Miguel Oliveira.

Akhir pekan ini, cuaca buruk juga akan menyapa Buriram. Harapan Marquez mempertahankan podium tertinggi MotoGP Thailand pun melambung.

Dua tahun tak melaju di sana akibat pandemi Covid-19, juara dunia MotoGP enam kali itu akan menyiapkan strategi berbeda.

“Thailand adalah sebuah sirkuit yang saya suka, memberikan kenangan indah sejak 2019. Tikungan terakhir dengan Fabio…Saya perlu mengubah strategi!” ujarnya.

“Tahun ini, kami tidak datang dengan situasi yang sama. Kami tidak datang di lap terakhir bertarung untuk kemenangan, kita lihat saja. Ketika Anda tiba di sirkuit dengan memori indah, itu memberikan sesuatu yang spesial.

“Dalam kondisi hujan, semua menjadi sangat terbuka. Balapan menjadi tidak terlalu menuntut fisik dan batasan motor kurang terasa.”

Marquez menjadikan pengalaman dan kenangan dari Motegi sebagai modal. Motivasinya dan Honda kembali meningkat setelah akhir pekan yang solid.

“Motegi sangat penting, sejak 2020 di Jerez, saya tidak bisa menyerang di lap terakhir karena ketika Anda kesakitan, Anda kehilangan tenaga dan konsenstrasi terganggu. Dalam semua balapan yang saya lakukan, saya menurun di lap terakhir,” ia melanjutkan.

“Motegi adalah pertama kali, saya bisa menekan hingga lap terakhir. Memang benar, saya kehilangan daya tapi itu normal dan paling penting finis dengan baik.

“Kita lihat di Buriram, memang benar di Jepang, cuaca sangat membantu sehingga tubuh tidak terlalu tertekan pada Sabtu. Sepanjang pekan, butuh waktu lebih banyak dari yang saya perkirakan untuk pulih. Hari Minggu, saya merasa baik tapi Selasa, lengan sangat kaku. Semoga besok tidak ada masalah.”

Di Motegi, ia menggunakan swingarm alumunium buatan Kalex dan yang terbuat dari karbon produksi Honda, secara bergantian. Pembalap 29 tahun itu harus membandingkan mana yang terbaik.

“Saya balapan akhir pekan secara penuh saat kondisi kering dengan alumunium, dan pada trek basah menggunakan karbon. Ini bukan cara terbaik untuk mencapai hasil bagus, tapi kami perlu melakukannya,” ia menjelaskan.

“Di sini, kami akan menerapkan strategi yang sama, tapi ke depannya, kami perlu mencoba karbon. Spesifikasi berbeda, kami belum putuskan. Kalau ada waktu, kami juga akan mencoba beberapa alat, untuk mengerti konsep tahun depan.”