Masalah Chelsea, Frustasi Thomas Tuchel, Mandeknya Peran Vital Kante and Jorginho, Paceklik Lini Depan

Chelsea sedang berada dalam situasi yang sulit, posisi mereka di puncak klasemen harus rela digeser oleh Manchester City yang tampil menawan.

Mereka juga harus mengakui keunggulan Liverpool yang juga sukses menggeser mereka dari peringkat kedua klasemen Liga Inggris.

2 Hasil imbang Chelsea melawan Everton dan Wolves di 2 laga terakhir membuat mereka harus puas duduk di peringkat ke-3 Klasemen dengan kumpulan 38 poin dari 18 pertandingan.

Pasukan Thomas Tuchel itu terpaut 6 angka dari Manchester City yang berada di puncak dan 3 angka dari Liverpool yang berada tepat di atasnya.

Gelandang Chelsea asal Italia Jorginho (kiri) berbicara dengan pelatih kepala Chelsea Jerman Thomas Tuchel (kanan) selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Chelsea dan Leeds United di Stamford Bridge di London pada 11 Desember 2021. (GLYN KIRK / AFP)

Ya, superioritas Chelsea di awal musim tak mampu mereka pertahankan hingga pekan ke-18 ini.

Dari delapan pertandingan Liga Inggris terakhir, The Blues hanya mampu meraih 3 kemenangan, sisanya mereka mengalami satu kekalahan dan empat hasil imbang.

Jika dikalkulasi tim yang bermarkas di Stamford Bridge itu hanya mampu mengumpulkan 11 poin dari potensi 23 angka yang seharusnya mereka bisa raih.

Faktor lini belakang menjadi hal yang patut untuk disorot, setelah rangkaian clean sheet yang berhasil diukir Eduardo Mendy.

Gawang eks kiper Lille itu kini telah kebobolan selama enam pertandingan beruntun.

Jika dihitung, Mendy telah kebobolan sebanyak 11 kali dari 7 pertandingan terakhir Chelsea di seluruh kompetisi.

Sungguh sebuah hal yang jarang kita lihat sejak kedatangannya menuju Stamford Bridge di awal musim ini.

Faktor Jorginho dan N’golo Kante yang secara bergantian harus absen karena cedera menjadi masalah di lini tengah Chelsea.

Tak ada gelandang The Blues yang mampu menggantikan peran vital mereka berdua, Ruben Loftus-cheek memang istimewa perihal melakukan dribble dan fenetrasi.

Namun dalam urusan membagi bola dan menjadi pemutus serangan lawan, itu bukanlah atribut yang dimiliki pria asal Inggris tersebut.

Performa mengecewakan juga ditunjukkan oleh Saul Niguez, dipinjam dari Atletico Madrid, ia sama sekali tak menunjukkan impact untuk The Blues.

Saul Niguez saat laga Chelsea Vs Southampton di ajang Piala Liga Inggris Carabao Cup, Rabu (27/10/2021). (tangkap layar/The Mirror/Getty Images)

Pergerakannya begitu lambat, ia juga seringkali melakukan kesalahan pasing dan kalah duel di lini tengah melawan barisan gelandang lawan.

Saking kelimpungannya Tuchel, ia bahkan sempat menjadikan Reece James sebagai gelandang untuk menambal posisi Kante yang harus menepi, jelas James tak bermain sebagus seperti ia ditempatkan di posisi wing back.

Kemudian di lini depan, kolektivitas yang diusung Tuchel tak bisa terus-terusan memanfaatkan peran lini kedua untuk mencetak gol.

Target man yang mereka beli dengan harga 100 juta euro, Romelu Lukaku juga masih saja belum menunjukkan tajinya di depan gawang.

Pria asal Belgia itu belum mencetak gol dari 9 pertandingan beruntun di Liga Inggris.

kini Lukaku dipastikan tak akan mencatatkan namanya di papan skor lantaran harus menepi karena virus covid 19 yang menyerang tubuhnya.

Praktis, di lini depan, hanya ada nama Mason Mount yang penampilannya mengkilat, ia telah mencetak empat gol beruntun untuk Chelsea di Liga Inggris.

Ya, Mason Mount adalah salah satu pemain Chelsea yang penampilannya paling konsisten.

Baik di era kepelatihan Lampard atapun Tuchel, ia selalu menjadi pilihan utama dan tampil memuaskan.

Pemain berusia 23 tahun tersebut sejatinya bukanlah seorang pencetak gol handal.

Perannya lebih mumpuni sebagai seorang penyambung antara lini tengah menuju depan permainan The Blues.

Catatan 7 gol 4 assistnya adalah bonus untuk The Blues, atributnya lebih besar dari sekedar menyumbangkan namanya di papan skor.

Dan sang juru taktik, Thomas Tuchel paham betul akan potensi dan atribut seorang Mason Mount.

Ia memberi kebebasan Mount untuk bergerak dan mengatur serangan Chelsea di tengah ataupun samping.

Gelandang Chelsea asal Inggris, Mason Mount (kiri) melakukan selebrasi bersama rekan setimnya setelah mencetak gol pembuka pertandingan sepak bola Liga Inggris antara Chelsea dan Everton di Stamford Bridge di London pada 16 Desember 2021. (JUSTIN TALLIS / AFP)

Mount adalah pemain versatile. Dalam skema dasar 3-4-3 atau 3-4-2-1 yang digunakan eks pelatih PSG tersebut, ia bisa masuk dalam berbagai posisi yang ditugaskan sang juru taktik.

Ia dapat dimainkan di posisi winger kanan, winger kiri, dan memainkan peran no. 10.

Meskipun seringkali bermain sebagai winger peran utama Mount adalah sebagai playmaker yang diandalkan The Blues untuk merusak kenyamanan bek lawan dalam bertahan.

Visi bermain dan keuletannya dalam mencari ruang begitu baik, sehingga ia tak kesulitan untuk memberi kontribusi yang memuaskan sang pelatih.

Sebagai seorang playmaker, Mount membuktikan diri sebagai kreator serangan yang handal.

Serangan-serangan Chelsea banyak berasal dari kakinya.

Dilansir Fbref dan sofascore, catatn umpan kuncinya berada di angka 2,78 per pertandingan. Menjadi yang paling tinggi diantara pemain The Blues lainnya.

Sering melakukan umpan beresiko dan terobosan yang rawan dipotong bek lawan, catatan pass completion Mount masih sangat baik yaitu di angka 83% per pertandingan.

Kini, Tuchel begitu bergantung ada Mount untuk mengangkat performa Chelsea yang sedang inkonsisten.

Badai cedera di lini tengah dapat diisi Mount untuk memberikan kreativitas dalam permainan Chelsea.

Paceklik gol yang dialami Lukaku dan harus menepinya Werner membuat peran untuk mencetak gol kini juga menjadi tanggung jawab Mason Mount.