Meraba Masa Depan Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra

Walau berat diungkapkan, walau perih diucapkan, namun harus diakui bahwa nomor ganda putra Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 gagal memenuhi target.
Terlepas dari perjuangan yang sudah ditunjukkan di lapangan oleh Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, nomor ganda putra tidak bisa memenuhi status sebagai nomor yang diunggulkan oleh PBSI.

Di atas kertas, nomor ganda putra adalah ujung tombak untuk meraih medali emas di Olimpiade Tokyo. Kevin/Marcus jadi unggulan pertama sedangkan Ahsan/Hendra merupakan unggulan kedua.
Dibanding dengan dua kegagalan di Olimpiade sebelumnya, kegagalan ganda putra meraih medali kali ini jadi kegagalan yang paling menyakitkan. Hal itu merujuk pada fakta bahwa Kevin/Marcus dan Ahsan/Hendra sangat konsisten di seri turnamen BWF sebelum akhirnya laju turnamen terganggu pandemi corona.

Berdasarkan tren sebelumnya, selepas Olimpiade seringkali terjadi perubahan pasangan di Indonesia. Candra Wijaya dan Tony Gunawan pada 2001, beberapa bulan setelah juara Olimpiade.

Duet Ahsan dan Hendra pun disandingkan setelah Olimpiade London 2012. Dalam tren yang sudah-sudah, perubahan pasangan beberapa kali terjadi dalam rangka proyeksi empat tahunan menyongsong gelaran Olimpiade berikutnya.

Menilik usia, Kevin berusia 26 tahun, Marcus berumur 30 tahun. Ahsan bakal berusia 34 tahun sementara Hendra akan menginjak umur 37 tahun. Pembicaraan mengenai kemungkinan perubahan pasangan ganda putra pun sudah mulai beredar di kalangan penggemar badminton.

Kevin/Marcus tersisih di babak perempat final Olimpiade. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Selepas Olimpiade Tokyo, pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi tentu bakal duduk dan menentukan proyeksi jangka panjang. Herry IP juga mungkin bakal membuka sesi diskusi untuk melihat fokus dan ambisi yang diinginkan pemain dalam tahun-tahun mendatang.

Namun khusus untuk tahun ini, ada perbedaan yang patut diperhatikan. Biasanya, selepas Olimpiade hanya akan berlangsung seri turnamen BWF biasa.

Momen seperti itu akan mudah membuat keputusan untuk ganti pasangan lantaran turnamen penting masih bakal berlangsung beberapa bulan kemudian seperti All England yang biasanya berlangsung di bulan Maret.

Namun untuk tahun ini, akhir tahun masih menyisakan sejumlah turnamen badminton yang vital dan meriah. Piala Sudirman, Piala Thomas, dan Kejuaraan Dunia, plus tiga turnamen akhir tahun di Indonesia adalah turnamen yang menunggu untuk digelar.

Lihat Juga :

Daftar 12 Pelatih Badminton Indonesia di Luar Negeri
Kehadiran turnamen ini hampir dipastikan bakal membuat tidak ada perubahan pasangan yang dilakukan dalam waktu dekat.

Indonesia masih membutuhkan Kevin/Marcus sebagai andalan di Piala Sudirman dan Piala Thomas. Selain itu gelar di Kejuaraan Dunia merupakan gelar yang masih mereka buru sejak awal berpasangan.

Beban Kevin dan Marcus sebagai ganda putra nomor satu dunia memang berat dalam empat tahun terakhir. Mereka sering merajai turnamen namun tak pernah mendapat medali Kejuaraan Dunia.

Sedikit banyak kegagalan di Kejuaraan Dunia turut mempengaruhi pola pikir mereka menghadapi kejuaraan besar macam Olimpiade.

Karena itu besar kemungkinan hasil Kevin/Marcus di Kejuaraan Dunia 2021 juga bakal turut mempengaruhi masa depan pasangan berjuluk ‘Minions’ ini. Herry IP mungkin bakal mengambil keputusan terkait Minions selepas Kejuaraan Dunia.

Karena kekhususan Olimpiade 2020 yang digelar di 2021 ini pula, ganti pasangan tidak akan mudah dilakukan.

Di level pelatnas, pemain yang bisa sejajar dengan Kevin dan Marcus adalah Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto.

Pertukaran pasangan di antara mereka adalah hal yang paling memungkinkan karena level bermain yang tidak jauh. Namun kondisi itu bakal membuat Indonesia kehilangan dua pasang sekaligus di papan atas ganda putra dan memulai kembali semuanya dari awal.

Selain itu, bila menghitung per awal 2022, otomatis hanya ada waktu 2,5 untuk persiapan menuju Olimpiade. Hal ini jelas terbilang singkat bila yang biasanya berlangsung selama empat tahun.

Di atas kertas, Kevin/Marcus masih bisa jadi senjata utama nomor ganda putra.

Memang, Olimpiade kemarin benar-benar sulit bagi Kevin/Marcus yang absen lama. Tanpa turnamen pemanasan, plus beban berat sebagai andalan meraih medali emas, Kevin/Marcus tidak bisa menyajikan level permainan terbaik saat kalah di perempat final.

Yang perlu diatur ulang dari Kevin/Marcus saat ini tentu mental terhadap beban di laga-laga besar. Dengan kekalahan di Olimpiade, posisi Kevin/Marcus tidak akan lagi sebagai ganda putra yang paling diburu.

Status itu kini jadi milik Lee Yang/Wang Chi Lin. Dengan status kini sebagai pemburu, Kevin/Marcus tentu diharapkan tak lagi menanggung beban berat seperti sebelumnya.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan telah membuat kejutan besar ketika lolos ke Olimpiade Tokyo 2020 sebagai unggulan kedua.
Selepas kegagalan di Rio de Janeiro 2016, Ahsan dan Hendra sempat berpisah dan baru kembali bersama dua tahun kemudian.

Untuk kali ini, Ahsan dan Hendra kemungkinan besar tak akan berpisah. Dengan usia sekarang, mereka bakal terus bermain bersama-sama sampai akhirnya memutuskan pensiun dan gantung raket.

Bila menilik kemampuan di Olimpiade kemarin, Ahsan dan Hendra masih punya kemampuan bermain di level papan atas. Jika seri turnamen BWF digelar rutin kembali seperti sebelum pandemi, Ahsan/Hendra bakal selalu jadi ganda yang diwaspadai lantaran kemampuan mereka belum benar-benar habis.

Karena alasan itu pula, Ahsan/Hendra juga kemungkinan masih diharapkan untuk masuk dalam skuad Piala Thomas 2020. Kehadiran Ahsan dan Hendra diharapkan bisa memimpin pemain-pemain merebut Piala Thomas yang sudah lama tidak dimenangkan.

Ahsan/Hendra masih punya potensi untuk bersaing di seri turnamen BWF. (AFP/PEDRO PARDO)
Meski mungkin masih bisa bermain di level tinggi dalam beberapa waktu ke depan, Ahsan/Hendra tentu tidak akan masuk dalam proyeksi untuk Olimpiade Paris 2024 mendatang. Usia Hendra sudah menginjak 40 tahun dan Ahsan 37 tahun.

Setahun ke depan, andai turnamen BWF benar-benar sudah rutin digelar, juga bakal jadi persaingan terbuka di nomor ganda putra. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan ganda putra muda lainnya bakal bersaing secara terbuka untuk menaikkan peringkat mereka ke level elite.

Meski Ahsan/Hendra sudah tak lagi masuk dalam persaingan, hal itu bukan berarti Kevin/Marcus dan Fajar/Rian bakal aman mengunci dua tiket menuju Paris.

Mereka akan dapat perlawanan keras dari junior-junior mereka yang juga bermimpi tampil di Olimpiade.

Persaingan ketat di internal ini yang akan mendorong terjaganya kualitas ganda putra Indonesia.