Niccolo Antonelli Iri Lihat Lawan-lawannya ke MotoGP

Pembalap Italia tersebut berdebut di Moto3 pada 2012 bersama San Carlo Gresini Team. Sejak saat itu, ia seolah terjebak pada level bawah grand prix.

Sedangkan, banyak rivalnya sudah melangkah ke jenjang lebih tinggi. Bahkan, Fabio Quartararo dan Joan Mir sudah menyandang predikat juara dunia MotoGP. Enea Bastianini berdebut di level premier musim 2021 dan mengecap sukses. Francesco Bagnaia jadi ikon baru Ducati setelah sempat jadi penantang titel juara.

Bahkan, debutan Moto3 2020, Raul Fernandez langsung naik ke Moto2 setelah merengkuh gelar. Ia hampir jadi juara kategori menengah dan musim depan, membela Tech3 KTM untuk MotoGP. Lalu, Pedro Acosta, yang baru mencicipi Moto3 2021, juga bakal promosi ke Moto2 musim depan.

Ketika menyaksikan deretan prestasi mantan lawannya dan kondisinya sendiri, Antonelli sering merasa terpuruk.

“Ini adalah kenyataannya dan tidak ada gunanya memikirkan itu. Tentu saja, itu membuat saya terluka sedikit, terutama ketika mengingat semua kesalahan yang saya buat,” ujarnya, dikutip dari GPOne.com.

“Saya mulai dengan kondisi sama, dengan semua kartu di tangan, jika mereka ada di sana sekarang dan saya tidak, itu artinya mereka telah melakukan sesuatu lebih baik daripada saya.

“Saya tahu alasannya, saya tahu apa yang terjadi dalam karier. Saya harus menatap ke depan dan berikutnya, adalah tempat di mana sangat saya inginkan. Masa depan masih harus ditulis. Saya pikir, saya adalah pembalap kuat dan ingin menunjukkan betapa kompetitif saya di Moto2. Setiap orang punya kisahnya sendiri.”

Setelah satu dekade berkutat di Moto3, akhirnya Antonelli naik ke Moto2, membela VR46 Racing Team. Pembalap 25 tahun tersebut sudah melakoni tes di Sirkuit Jerez.

“Kami kurang beruntung dengan cuaca, dua hari hujan dan genangan mengganggu kami. Ketika aspal mengering sangat keren, saya mulai mengerti motor dan coba mendorong. Mengendarai Moto2 sangat hebat dengan ban besar. Itu tes menarik, saya punya banyak informasi,” ia mengungkapkan.

“Masalahnya, Moto2 dekat dengan 1000cc daripada 600cc, perubahan tenaga. Contohnya, dengan R6, hampir sama dengan Moto3, Moto2 sangat berbeda. Ini betul-betul motor untuk balapan.

“Selama dua tahun tanpa cedera pada 2012 dan 2015, lalu tahun ini, saya patah tangan, tapi hanya dua tulang. Mereka cepat pulih. Ada musim di mana cedera jadi masalah.

“Saya punya beberapa penyesalan karena ada waktu di mana saya terlalu baik dan ini membuat saya terluka. Saya yakin akan punya karier berbeda dengan cedera lebih sedikit, tapi itu masa lalu.”

Murid Akademi Balap Valentino Rossi tersebut mulai mempersiapkan diri dengan meningkatkan kekuatan fisik karena Moto2 lebih berat.

“Saya akan bekerja keras karena saya harus meningkatkan kekuatan. Moto2 menuntut fisik dan saya ingin siap pada Februari. Kemudian, saya akan pergi ski,” katanya.

Niccolo Antonelli, Reale Avintia Moto3©

“Pada musim lalu, saya akan belajar banyak. Kami bisa melakukan lebih baik dalam hal hasil akhir tanpa banyak masalah, tapi tim membantu saya berkembang. Saya dapat mengatasi batas, meski berkendara.

“Pindah ke Moto2 hadir dalam waktu yang bagus, tapi saya akan melakukannya dengan tim hebat. Kami kenal satu sama lain, ada banyak yang bisa dibagikan. Terlepas dari usia, karena saya seharusnya tiba beberapa tahun sebelumnya. Semua hebat.

“Saya mengharapkan sedikit tenaga lagi, karena tidak sulit mengontrol wheelie. Ada banyak yang mesti dipelajari, contohnya belok ketika melambat di tikungan.”