PSG vs Man City: MNM dan Mimpi Buruk Guardiola

Manchester City punya modal meyakinkan saat jumpa Paris Saint-Germain di Parc des Princes dalam laga lanjutan Liga Champions pada Rabu (29/9) dini hari WIB. Namun, PSG punya trio Lionel Messi, Neymar, dan Kylian Mbappe (MNM).
Selepas menangani Barcelona, Pep Guardiola tak pernah bisa meraih gelar Liga Champions. Dari musim ke musim, ada saja jalan pengadang, termasuk sosok Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Neymar Jr yang kini membela PSG.

Pada musim 2014/2015, saat Guardiola masih menangani Bayern Munchen, mimpi meraih gelar Liga Champions untuk ketiga kalinya dipupuskan Messi dan Neymar. Bayern dilibas 0-3 pada leg pertama walau menang 3-2 pada leg kedua.

Musim selanjutnya Atletico Madrid mengganjal. Ini sama seperti musim 2013/2014: tim asuhan pelatih asal Spanyol ini dikandaskan tim asal Madrid lain, Real Madrid. Tiga kali Guardiola gagal di semifinal.

Berlabuh ke Manchester City sama tak mudahnya. Pada musim 2016/2017, tim asuhan Guardiola disingkirkan AS Monaco. Salah satu faktor kunci yang meremukkan The Citizens adalah Mbappe, yakni dengan menyumbang dua gol.

Racikan taktik Pep Guardiola akan diuji trio MNM milik PSG. (Action Images via Reuters/LEE SMITH)
Selanjutnya klub-klub Inggris jadi momok. Pada musim 2017/2018 mereka takluk dari Liverpool pada babak delapan besar, lantas disingkirkan Tottenham Hotspur pada fase yang sama musim 2018/2019, dan kalah dari Chelsea di final musim 2020/2021.

Sejak musim 2013/2014, Liga Champions jadi mimpi buruk lelaki 50 tahun tersebut. Kekayaan strategi dan kejeniusan Guardiola seperti tak bertuah dalam ajang kontinental termegah benua biru ini.

Kendati demikian pencapaian Guardiola di fase grup Liga Champions Eropa terbilang meyakinkan. Dari musim 2008/2009 hingga 2021/2022, Guardiola tak pernah gagal mengantarkan tim asuhannya lolos dari babak grup.

Bahkan, persentase kemenangan tim yang diasuhnya lebih dari 75 persen. Dari total 78 pertandingan babak grup, tim asuhan Guardiola hanya takluk 11 kali dan 15 kali imbang, sisanya berakhir dengan kemenangan.

Namun, saat tim asuhannya bertemu dengan Messi, Neymar, dan Mbappe, sejarah kurang berpihak. Mbappe membuka mimpi buruk tersebut bersama AS Monaco pada musim 2016/2017. Pemuda ini melesakkan dua gol dari dua pertemuan.

Messi dan Neymar juga bisa dibilang momok serius Guardiola. Pada musim 2014/2015 Bayern Munich gagal melaju ke babak final setelah takluk 0-3 pada leg pertama dan menang 3-2 pada leg kedua. Messi dan Neymar sama-sama mengoleksi dua gol.

Selanjutnya pada musim 2016/2017 Messi dan Neymar melumat City dengan skor 4-0. Messi menciptakan hattrick dan Neymar satu gol. Sedangkan pada leg kedua Barcelona takluk 1-3 tetapi Messi menyumbang satu gol.
Kini, ketiga momok Guardiola itu bergabung di PSG. Catatan impresif City akan PSG yang tak pernah kalah dalam lima pertemuan: dua kali imbang dan tiga kali menang, bisa saja terpatahkan dalam laga kali ini.

Messi yang sebelumnya absen bersama PSG karena cedera pun sudah mengikuti latihan. Walau belum ada kepastian peraih enam gelar Ballon d’Or itu akan main, kans MNM tampil untuk menumpas City sangat terbuka.

Selain Lionel Messi yang belum dalam kondisi terbaik, konektivitas tiga striker dengan kualitas individu istimewa ini belum terjalin. Mauricio Pochettino, pelatih PSG, baru dua kali memainkan ketiganya secara bersamaan.
Ketiganya tampil bersama untuk pertama kali saat menghadapi Club Brugge pada 16 September. Pertandingan ini berakhir dengan skor 1-1 dan trio MNM tak mencetak gol. Hanya Mbappe yang menyumbang assist.

Kedua saat bersua Lyon dan menang 2-1. Mbappe kembali menyumbang assist, sedang Neymar melesakkan satu gol dari penalti. Messi? Belum menyumbang gol dan assist.

Messi malah tampak tak senang dengan keputusan Pochettino yang menariknya keluar pada menit ke-76. Bintang asal Argentina ini secara terbuka memperlihatkan mimik kecewa dengan keputusan Pochettino.

Terbaru, Neymar dan Mbappe disebut-sebut berselisih. Itu terjadi dalam pertandingan melawan Montpellier pada Minggu (26/9). Mbappe disebut tak senang dengan Neymar karena tak memberi umpan padahal posisinya bagus untuk mencetak gol.

Begitu ditarik keluar pada menit ke-88, Mbappe mengutarakan isi hatinya kepada Idrissa Gueye. “Dia [Neymar] tidak mengoper ke saya,” kata Mbappe, yang terekam dalam kamera Canal .

Ini mengejutkan, sebab Neymar dan Mbappe sama-sama datang ke PSG pada 2017 dan langsung jadi sahabat kental. Keduanya sering saling lempar pujian. Hubungan keduanya di luar lapangan pun tampak harmonis.

Keretakan kecil demi keretakan kecil di PSG muncul setelah Messi datang. Mbappe misalnya sangat ingin hengkang ke klub klub lain, seperti Real Madrid, tetapi klub mematok harga yang sangat tinggi.

Karena tak ada jalan tengah, pemuda 22 tahun ini menolak tawaran perpanjangan kontrak. Jika sampai akhir musim ini atau 30 Juni 2022 tak ada perpanjangan kontrak, Mbappe bebas memilih klub dengan status bebas transfer.

Hal-hal semacam ini disebut-sebut membuat percikan api kecil di internal PSG. Jika hal semacam ini tak kunjung disudahi bukan tak mungkin kebakaran besar akan terjadi, yang itu berujung kerugian klub.

Namun ada pula yang menyebut, semua drama yang saat ini tercipta di antara Messi, Neymar, Mbappe, dan Pochettino hanya skema. Ini adalah cara PSG tetap mencuri perhatian di tengah kondisi adaptasi sejumlah pemain.

Dengan gaji yang tinggi: Mbappe sekitar 18 juta euro, Messi mencapai 36 juta euro, dan Neymar di kisaran 35 juta euro, duet ketiganya selayaknya mematikan. Jika melihat sejarah dan statistik, Manchester City bisa jadi titik tolak kehebatan trio MNM.