‘Si Oportunis’ Lukaku dan Logika dalam Beropini

MILAN — Spanduk Curva Nord milik Ultras Inter Milan cukup menampar keras ke wajah striker Romelu Lukaku. Alih-alih bisa kembali mendapat ruang di hati fan Inter, ikatan Big Rom dengan tifosi i Nerazzurri justru merenggang.

Lukaku secara sadar melakukan pembicaraan dengan Sky Sport. Ia berbicara tentang situasinya bersama Chelsea, dan menjelaskan perihal keputusannya angkat koper dari Stadion Giuseppe Meazza musim panas 2021 lalu.
Striker berpaspor Belgia mengungkapkan kekecewaan di Chelsea. Ia tidak senang dengan gaya bermain yang dibawakan manajer the Blues, Thomas Tuchel. Tidak hanya itu, Lukaku bahkan mengungkapkan harapan untuk bisa pulang ke Inter.

 

Il Biscione adalah klub yang ditinggalkan pemain 28 tahun itu di akhir musim lalu demi bisa bergabung bersama tim idola masa kecilnya Chelsea.

 

“Secara fisik saya baik-baik saja, mungkin lebih baik dari sebelumnya. Tetapi, saya tak bahagia dengan situasi di sini (Chelsea) dan ini normal. Sepertinya Tuchel memilih untuk bermain dengan sistem berbeda,” kata Lukaku saat diwawancara Sky Sport, Ahad (2/1).

 

Sesi tanya jawab tersebut memang sudah lama terjadi, setidaknya tiga pekan lalu. Namun, outlet olahraga asal negeri pasta tersebut baru merilisnya pada akhir pekan kemarin.

 

Sementara itu komentar Lukaku seakan mencerminkan permainannya di atas lapangan. Hingga kini, ia baru mencatat lima gol dari 13 penampilan untuk kampiun Liga Champions musim lalu.

 

Bahkan dalam tujuh laga, Big Rom, Lukaku gagal mencetak gol gol. Belum lagi, dirinya sempat dibekap cedera dan positif terinfeksi Covid-19.

 

Pernyataan Lukaku jelas menimbulkan berbagai reaksi seperti Thomas Tuchel dan juga pendukung Inter Milan. Tuchel mengaku tak senang dengan perkataan penyerang tersebut meski ia enggan mengasapi kabar tersebut lebih jauh.

 

“Ia mendatangkan kegaduhan yang tak diperlukan. Jadi, saya akan terbuka dengannya, seperti apa yang saya lakukan dengan pemain lain. Masalah ini akan secepatnya kami selesaikan,” sambut Tuchel mengomentari pernyataan Lukaku.

 

Sejatinya Lukaku memiliki mimpi untuk bergabung dengan salah satu dari tiga klub top yang diharapkan yakni Barcelona, Real Madrid dan Bayern Muenchen di masa depan.

 

Tetapi saat bursa transfer musim panas dibuka tidak ada tawaran dari ketiga klub di atas dan klub asal London Chelsea datang membawa harapan agar Big Rom meraih kesuksesan di Liga Primer Inggris bersama the Roman Emperor.

 

Hal tersebut membuat rekan senegara Kevin De bruyne menyesali keputusannya meninggalkan Inter. Apalagi, kepergian Lukaku dari i Nerazzurri dihiasi kontroversi.

 

Ia sebelumnya sempat mengaku bakal bertahan di Inter, tapi kemudian justru menerima pinangan Chelsea dengan segala rayuan untuk bisa mengukir kesuksesan dengan klub idola masa kecil.

 

Bisa dikatakan bahwa karier eks penyerang Anderlecht diselamatkan oleh Inter setelah ia melalui periode gelap bersama Manchester United.

 

Lukaku berkostum Inter selama dua musim dengan mencetak 34 gol dari 51 penampilan di semua ajang. Sementara, pada musim kedua ia mengemas 30 gol dari 44 laga termasuk 24 gol di pentas Serie A Italia, pun berhasil mempersembahkan gelar Scudetto.

 

Untuk itu, Lukaku berharap, dalam satu momen pada sisa kariernya, eks striker yang pernah memperkuat West Bromwich Albion itu bisa kembali ke Milan dan memperkuat i Nerazzurri.

 

“Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya bahwa Inter selalu di hati dan berharap untuk bisa kembali. Saya jatuh cinta dengan Italia, dan kini membiarkan orang tahu apa yang sebenarnya terjadi,” sambung Lukaku.

 

CEO Inter Giuseppe Morata belum lama ini mengatakan, Romelu Lukaku pergi demi gaji yang jauh lebih besar. Akan tetapi, Lukaku membantah. Tantangan juara Liga Inggris semata-mata memotivasinya kembali ke Chelsea usai awal karier yang buruk di sana.

 

Selain itu, pemilik nomor punggung 9 menerangkan alasan kepindahannya adalah pihak klub tidak menyodorkan perpanjangan kontrak dan melepas beberapa pilar penting dalam kesuksesan Inter musim lalu seperti Achraf Hakimi dan pelatih Antonio Conte.

 

Namun segala pernyataan Lukaku tak membuat pendukung Inter melunak. Curva Nord justru membalas dengan pernyataan dingin, mereka memasang spanduk yang menegaskan tidak menginginkan kepulangan Big Rom.

 

“Tidak masalah siapa yang lari di tengah hujan, yang penting siapa yang bertahan dalam badai. Selamat tinggal Lukaku,” tulis spanduk Curva Nord.

 

Lukaku pernah menepis jauh-jauh predikat sebagai striker oportunis saat berlari di atas lapangan oleh beberapa media. Namun, pada kenyataannya baik di luar pun di dalam stadion Lukaku menunjukkan sikap yang sama.

 

Ia seakan menjadi sosok penganut paham oportunisme. Pribadi yang semata-mata hendak mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari kesempatan yang ada tanpa berpegang pada prinsip tertentu.

 

Dalam ranah apapun termasuk sepak bola, bentuk dari motivasi yang paling ideal bagi seorang pemain adalah hasrat. Meski, terkadang tujuan beberapa pesepak bola adalah untuk mendapatkan penebusan sosial serta uang untuk diberikan kepada keluarga demi mendapat kehidupan yang lebih layak.

 

Dengan segala hormat, komentar dan pernyataan mendalam Lukaku jelas tidak bisa dipahami oleh para pendukung Inter dan juga Chelsea lantaran ia gagal menjaga konsistensi logikanya dalam beropini atau pun saat menyatakan komentarnya di hadapan media tersebut.

 

Pada akhirnya tifosi Inter akan tetap menatap ke depan bahwa mereka memiliki Edin Dzeko, Lautaro Martinez, Nicolo Barella, dan Hakan Calhanoglu yang masih mampu mempertahankan reputasi juara bertahan di bawah Simone Inzaghi.

 

Sedangkan Chelsea masih bisa berdiri dan terus menjaringkan banyak gol dengan mempercayai Hakim Ziyech, Kai Havertz, Timo Werner, Mason Mount serta Jorginho.