Southgate di Inggris: Dari Badai Kritikan Lalu Dibelai Pujian

– Gareth Southgate pernah dihantam badai kritikan karena dianggap tak mampu memegang timnas Inggris. Kini ia sukses dan dihadiahi banyak pujian seiring performa Inggris di Euro 2020 (Euro 2021). Inggris adalah tim yang sangat bernafsu mengembalikan kejayaan mereka di pentas internasional, setelah trofi besar satu-satunya yang mereka dapatkan adalah Piala Dunia 1966. Pelatih hebat pun didatangkan, bahkan termasuk pelatih asing macam Sven Goran Eriksson dan Fabio Capello. Namun hal itu tak juga membuahkan hasil manis untuk Inggris.
Pilihan Redaksi Mourinho: Maaf Inggris, Itu Bukan Penalti Southgate Sempat Bingung Soal Kontroversi 2 Bola di Lapangan Debut Inggris Kebobolan di Euro 2020 Akibat Kecerobohan WAGs Timnas Inggris Rayakan Sukses ke Final Euro 2020 Southgate sendiri ditunjuk sebagai pelatih Inggris mengisi posisi yang ditinggalkan Sam Allardyce. Kehadiran Southgate seringkali disebut tak layak dan tidak lebih baik dari Allardyce yang penunjukkannya juga mengalami kritikan. Southgate memang tak punya latar belakang yang mentereng macam Capello atau Eriksson. Southgate gagal bersama Middlesbrough dan kemudian berkiprah di tim nasional junior Inggris. Namun perlahan Southgate bisa menunjukkan prestasinya bersama Inggris. Inggris lolos ke Piala Dunia 2018 dengan status sebagai juara grup F.
Di Rusia, Inggris di bawah kendali Southgate bisa tampil mengejutkan. Inggris yang biasanya hanya jadi jagoan di atas kertas menjelma jadi tim yang tangguh dan bertahan hingga akhir turnamen. Inggris menyinkirkan Kolombia dan Swedia dalam perjalanan menuju semifinal. Inggris bahkan bisa menang adu penalti, sebuah hal yang sering jadi mimpi buruk Inggris. Meski kalah dari Kroasia di semifinal, Inggris di tangan Southgate dianggap berhasil. Alhasil, posisi Southgate aman di kursi pelatih. Meski sudah membuat Inggris impresif di Piala Dunia, dan juga UEFA Nations League, kritikan terhadap Southgate tak pernah berhenti.
Kritikan terhadap Southgate terus berlangsung hingga Euro 2020 (Euro 2021) dimulai. Keputusan Southgate membawa empat bek kanan sempat jadi bahan ejekan. Namun pada akhirnya pilihan Southgate bisa dibilang penuh pertimbangan. Trent Alexander-Arnold mengalami cedera dan Southgate sempat memainkan Kyle Walker dan Kieran Trippier secara bersamaan. Belum lagi soal kritikan kepercayaan Southgate pada Raheem Sterling dibanding Jack Grealish. Pada akhirnya Southgate bisa membungkam para pengkritik karena Sterling ternyata punya peran vital di balik sukses Inggris sejauh ini. Baca juga: Wasit Makkelie, Polisi yang Dihujat Usai Beri Inggris Penalti Inggris di bawah Southgate juga tak lepas dari hujan kritikan meski berhasi jadi juara grup. Hal itu lantaran mereka hanya mencetak dua gol sepanjang fase grup, meskipun mereka juga mampu tak kebobolan di tiga laga. Tetapi kemudian Southgate dengan brilian membuktikan bahwa Inggris di bawah dirinya punya potensi ledakan besar lewat kemenangan atas Jerman, Ukraina, dan Denmark. Jordan Pickford baru kebobolan satu gol sepanjang Euro 2020 (Euro 2021). (AP/Andy Rain) Kini Inggris sudah berhasil menjejakkan kaki ke babak final Euro 2020 (Euro 2021). Southgate sudah mulai dibanjiri pujian. Inggris benar-benar dilanda euforia keyakinan juara Euro untuk pertama kalinya. Namun Southgate masih harus menghadapi satu laga mahaberat yaitu melawan Italia di final Euro 2020 (Euro 2021). Pada laga nanti, kritik-kritik pada Southgate kemungkinan besar untuk sementara bakal padam.
Tetapi bukan berarti kritik itu tak akan terdengar nyaring andai Southgate mengakhiri pertandingan dengan kegagalan. Karena pada akhirnya, yang dihitung dalam sejarah sepak bola hanyalah peringkat pertama, bukan posisi kedua.