UMKM di Solo Tumbuh Signifikan Selama 2022, Jumlahnya Naik Lebih dari 300 Persen

TEMPO.COSolo-Usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM di Kota Solo tumbuh signifikan selama tahun 2022. Dari jumlahnya, UMKM naik hingga lebih dari 300 persen dibandingkan tahun 2021.

Berdasarkan pemutakhiran data yang dilaksanakan Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Solo, tahun ini tercatat sebanyak 11.157 UMKM. Adapun data tahun 2021 menunjukkan hanya ada 3.635 UMKM. 

Dari jumlah 11.157 UMKM itu diklasifikasikan menjadi tiga yaitu sebanyak 11.138 usaha termasuk usaha mikro, 18 usaha kecil, dan 3 usaha menengah. 

Adapun sebaran domisili usaha UMKM di Kota Solo di lima kecamatan, yaitu sebesar 24,81 persen di Serengan, 17,65 persen di Jebres, 17,59 persen di Banjarsari, 13,34 persen di Laweyan, dan 26,61 persen di Pasar Kliwon.

Data tentang pertumbuhan UMKM di Kota Solo itu dipaparkan saat penyerahan bantuan bahan habis pakai dan peralatan DID melalui Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian di kantor dinas setempat, Kamis, 29 Desember 2022.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Solo, Wahyu Kristina optimistis UMKM akan tumbuh lebih banyak lagi tahun depan. Hal itu jika melihat jumlah pemohon NIB yang juga makin banyak. 

“Otomatis ada permohonan usaha baru yang muncul. Situasi ini menunjukkan isu resesi ekonomi pada 2023 mendatang tidak membuat pelaku UMKM patah arang Karena memang basic-nya, UMKM itu fleksibel. Jadi mau ada resesi sekalipun mereka tetap bisa survive,” kata Ina, sapaan akrab Wahyu Kristina.

Namun Ina memastikan tahun depan  akan ada banyak tantangan yang harus dihadapi para pelaku UMKM itu. Sehingga pihaknya mempersiapkan strategi yang akan memperkuat UMKM itu. “Ini perlu kami siapkan strategi agar mereka jadi UMKM yang tangguh,” ucapnya.

Ina menyebut beberapa strategi yang akan diterapkan di antaranya dengan program pengembangan, pemberdayaan, hingga akselerasi. Selain itu akan ada kolaborasi dan sinergi berbagai stakeholder.

“Sebab, jika hanya mengandalkan APBD untuk membina banyak UMKM tentu tidak mampu,” katanya.

Lebih lanjut Ina menyebutkan ada dua hal yang bisa membuat ekonomi cepat pulih. Pembangunan infrastruktur sebanyak-banyaknya dan menggelar acara sesering mungkin.

“Wali Kota (Gibran Rakabuming) kita sudah melakukan itu. UMKM kita terlibat juga dalam dua hal itu. Apalagi Solo adalah Kota MICE. Jadi UMKM yang ada lebih banyak bergerak di sektor MICE, seperti hiburan, kuliner, akomodasi. Itu potensi besar,” tuturnya. 

Apalagi mulai tahun depan, lanjut dia, sudah ada surat edaran yang mewajibkan organisasi pemerintah daerah (OPD) membeli produk UMKM di e-catalog. “Sesuai program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), sebesar 40 persen belanja pemerintah daerah dialokasikan untuk UMKM,” katanya. 

Ina menyebut pihaknya tak bosan mendorong UMKM binaannya masuk ke e-catalog.”Supaya kami pemerintah daerah bisa memanfaatkan produk UMKM. Ini upaya kami memberikan awareness UMKM soal e-catalog,” ucapnya. 

Ina menambahkan saat ini baru seribu UMKM yang produknya sudah masuk di sana. Namun menurutnya jumlah itu seharusnya bisa lebih banyak. 

“Makanya kami terus lakukan imbauan dan sosialisasi. Sampai pendampingan melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Benefitnya banyak. Kalau produknya dibeli pemerintah kan makin laris, bisa menambah tenaga kerja, mengurangi pengangguran. Multiplier effect-nya besar,” katanya lagi 

Ke depan, Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Solo memasang target peningkatan jumlah UMKM sebesar dua persen. Hal itu mengikuti rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).

“Diharapkan tahun depan juga akan makin banyan event yang digelar di Solo, sebab ini akan menjadikan potensi UMKM baru, tumbuh lebih banyak lagi,” katanya.