Wahai Man Utd: Penak Zaman Mourinho, Toh!

 

Manchester United kembali gagal merebut gelar sejak terakhir kali meraih saat masih diarsiteki Jose Mourinho pada 2017.

Man Utd kembali jadi pecundang. The Red Devils yang diunggulkan saat bersua Villarreal di final Liga Europa harus mengakhiri laga dengan kepala tertunduk pada Kamis (27/5) dini hari.

Skuad asuhan Ole Gunnar Solskjaer kalah adu penalti 10-11 dari Villarreal di Stadion Energa, Gdansk, Polandia. Bentrok kedua tim harus ditentukan lewat adu penalti readyviewed setelah skor imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu.

 

De Gea disorot karena tak mampu sekalipun menepis tendangan pemain-pemain Villarreal. Saat akhirnya jadi eksekutor, kiper berusia 30 itu gagal menuntaskan tugasnya yang berujung pesta kemenangan untuk Villarreal.

Meski demikian De Gea tidak sepatutnya menanggung beban kegagalan Man Utd jadi juara Liga Europa seorang diri. Seluruh pemain dan Solskjaer juga harus bertanggung jawab karena dari segi permainan Man Utd tak lebih baik dari Villarreal.

Man Utd boleh unggul penguasaan bola dengan 61 persen berbanding 39 persen. Namun, dari segi penciptaan peluang Villarreal tidak kalah dari Man Utd, dengan 13 peluang berbanding 15 peluang yang dibuat The Red Devils.

Villarreal menunjukkan tidak di bawah Man Utd di final Liga Europa. Padahal dari segi materi pemain, Man Utd memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang tim yang ditukangi Unai Emery.

Namun, keunggulan materi pemain itu tidak terlihat di lapangan. Daya juang para pemain Villarreal membuat mereka tampil sebagai sebuah tim yang solid sepanjang 120 menit.

Solskjaer yang direkrut menggantikan Mourinho sejauh ini belum bisa memberikan trofi. Juru racik formasi asal Norwegia itu bukan hanya gagal di Liga Europa tetapi juga tak cukup mampu mempersembahkan gelar lain di pentas domestik.readyviewed Villarreal yang jadi kuda hitam pada akhirnya bisa keluar sebagai juara. Sebaliknya Man Utd lagi-lagi gigit jari karena belum mampu mengakhiri puasa gelar sejak era Mourinho.

Buat tim besar seperti Man Utd, tanpa trofi dalam satu musim kompetisi adalah sesuatu yang sulit untuk diterima. Dan, Solskjaer sudah dua tahun terakhir gagal melakukannya meski didukung skuad yang bisa dikatakan lebih baik ketimbang era Mourinho.

Sejak Solskjaer datang, Man Utd mendatangkan pemain-pemain seperti Harry Maguire, Aaron Wan-Bissaka, Bruno Fernandes, hingga Edinson Cavani. Di luar Cavani, Man Utd menghabiskan dana yang cukup besar untuk merekrut Maguire, Wan-Bissaka, dan Fernandes.

Mourinho jadi pelatih terakhir yang bisa menghadirkan gelar untuk Man Utd. Pelatih yang mulai musim depan mengarsiteki AS Roma itu mempersembahkan trofi Liga Europa musim 2016/2017.

Selain gelar kompetisi kasta kedua Eropa, Mourinho juga meraih gelar Piala Liga Inggris 2016/2017 dan Community Shield tahun 2016. Tiga gelar itu jelas bukan yang paling prestisius tetapi pelatih yang pernah dijuluki ‘The Special One’ tetap punya kesan tersendiri berkat trofi yang dipersembahkan.

Bersama Mourinho, Man Utd jadi juara Liga Europa dengan skuad yang lebih buruk jika dibandingkan skuad saat ini. Di final melawan Ajax Amsterdam, ‘Setan Merah’ tampil dengan pemain-pemain seperti Sergio Romero, Matteo Darmian, Marouane Fellaini, hingga Henrikh Mkhitaryan dalam laga yang berakhir dengan skor 2-0.

 

Mourinho membuktikan bisa tetap memberikan gelar untuk Man Utd dengan skuad yang tidak istimewa. Mourinho juga membuktikan tangan dinginnya sebagai pelatih masih ampuh.

Belum lagi Mourinho pernah tak mendapatkan dukungan penuh untuk membentuk skuad ideal versinya. Pada musim terakhirnya sebelum dipecat, Mourinho ngotot meminta bek tengah baru untuk membuat jantung pertahanan tim lebih kokoh.

Namun, keinginan Mourinho tidak disambut positif oleh manajemen The Red Devils. Pihak klub justru mendatangkan Diogo Dalot (bek kanan), Fred (gelandang), dan Lee Grant (kiper).

Mourinho memang bukan tak dibekali dana untuk belanja pemain. Dalam periode singkatnya melatih Man Utd, ia mendatangkan Paul Pogba dan Romelu Lukaku dengan biaya transfer masing-masing lebih dari Rp1 triliun.

Namun, Mourinho setidaknya bisa menjawab perekrutan pemainnya itu dengan gelar. Tiga gelar dalam waktu lebih dari dua musim terbilang cukup baik meski Mourinho sebenarnya didatangkan untuk membawa Man Utd berjaya di Liga Inggris dan jadi yang terbaik di Liga Champions.

Mourinho masih bisa memberikan senyuman untuk suporter karena gelar yang ia berikan bersama Man Utd. Prestasi tersebut yang hingga kini tidak kunjung mampu diberikan oleh Solskjaer.

Bersama Solskjaer, Man Utd kerap mampu tampil hebat tetapi acapkali juga tampil angin-anginan. Konsistensi ini membuat Man Utd tercecer dalam persaingan meraih gelar Liga Inggris dan kini harus menerima kenyataan hanya menyandang gelar tim runner up Liga Europa.